Ada kesalahan di dalam gadget ini

Senin, 22 September 2008

Buku perdana saya...

Temans,
Mau kasih tahu kalau novel perdana saya sudah terbit. Judulnya : A Thousand Stairs. Novel ini cerita tentang petualangan peri muda yang bernama Aleeta. Ayo, pada beli ya...
Cek di www.bookoopedia.com. Hanya dijual di toko buku on-line. Thanks.
Enjoy my book…

Kamis, 07 Agustus 2008

FOTO PERSAHABATAN

Ruri lagi santai-santai di kamarnya. Di pangkuannya terdapat majalah remaja yang baru saja dipinjamnya dari Kak Echi.
“Wah… foto persahabatan!!!!” mata Ruri terpaku pada salah satu halaman dari majalah itu. Itu adalah pengumuman tentang lomba foto persahabatan. Ruri langsung teringat akan empat sahabatnya, Eni, Sasa, Desi, dan Melly. Tapi….
“Peserta harus sudah duduk di kelas VI SD. Foto persahabatan terdiri dari maksimal 3 orang, mengenakan pakaian casual. Foto harus bertemakan persahabatan …” Ruri membaca pelan. “Wah… maksimal 3 orang, sementara kita semua berlima… Wahh… nggak bisa deh…” Ruri menggeleng pelan.
“Hai Ruri!!!!”
Tiba-tiba, Eni, Sasa, Desi, dan Melly masuk ke dalam kamarnya.
“Hai…. dari tadi ditungguin kok baru datang sekarang…”
Keempat sahabatnya hanya tertawa saja.
“Ini, Mamaku tadi buatin makanan kecil buat kita semua…” Desi menyodorkan sekantong penuh kue kering buatan mamanya.
“Waah… pasti enak deh!!!”
Berlima mereka menikmati kue kering pemberian Mama Desi.
“Eeh.. apa nih?” Melly mengambil majalah yang tadi diletakkan Ruri begitu saja. “Foto persahabatan???”
Ruri mengangguk, “Tapi kita nggak bisa ikutan. Soalnya maksimal cuma bertiga aja…”
“Waah sayang ya… padahal lucu tuh ya kalau kita ikutan…”desah Sasa.
“Iya… lucu juga…” Eni menimpali.
Ruri terpekur. Sampai keesokan harinya, lomba foto persahabatan itu terus mengganggu pikirannya. Dia ingin mengikuti lomba itu, tapi siapa yang akan dipilihnya untuk berfoto bersamanya??? Mereka kan bersahabat lima orang, kalau hanya dipilih 3 orang, tentu saja harus ada yang dikorbankan. Tapi, siapa yang mau dikorbankan???
Sore ini mereka berlima berkumpul di rumah Desi.
“Aku kepikiran terus nih sama lomba foto persahabatan…” ujar Desi.
Ruri yang sedang baca komik jadi kaget. Ternyata Desi juga berpikiran sama dengan dirinya!!!
“Kita kan udah kelas VI, kita bersahabat, jadi harusnya kita bisa ikut lomba foto persahabatan itu…”
“Tapi kan… harus bertiga aja, sedangkan kita semua berlima.” kata Eni.
“Ya… kalau begitu, kita pilih aja tiga orang dari kita…” ujar Desi.
“Jadi maksud kamu pilih yang paling cantik di antara kita berlima!!!” mata Melly membulat. “Udah pasti aku nggak kepilih deh!!! Aku kan jelek, gendut, kalau dibandingin sama kamu mah jauh…” ujarnya sedikit sewot.
Tuuh kan!!! Jadi berantem deh….
“Aku… aku nggak bermaksud begitu…” ujar Desi tergagap-gagap.
“Maksud kamu apa jadinya?!?!?!” kali ini Sasa menimpali. “Aku juga pasti nggak bakal kepilih kan?! Aku kan kurus, ceking, mana bisa dibandingin sama kamu, Ruri, atau Eni?!?!?!”
“Aduh, udah deh!!!!” Ruri buru-buru melerai. “Nggak usah diributin. Kita nggak usah ikutan foto persahabatan itu aja.”
Tapi, suasana terlanjur tidak enak. Melly dan Sasa langsung pura-pura sibuk, Desi tampak serba salah, sementara Eni tampak bingung harus membela yang mana.
Ruri tidak suka suasana seperti ini.
“Sudahlah teman-teman. Kita semua kan bersahabat, jangan ngambek-ngambekan gitu dong.” ujarnya bersuaha mencairkan suasana.
“Iya maaf deh.” ujar Desi “Aku kan cuma pengen ikutan lomba ini aja. Kan lucu loh. Lagipula hadiahnya menarik. Tapi… kalau itu membuat kalian ngambek, ya nggak usah aja deh…”
“Daripada kita ribut-ribut, mendingan begini aja deh…” Eni tiba-tiba nyeletuk. “Yang ikutan foto biar aku, Ruri, dan Desi. Melly kan jagoan design baju, nah biar Melly yang ngerancang baju kita. Nah, Sasa… Papa kamu kan fotografer, kamu bisa minta bantuan papa kamu untuk fotoin kita.…”
Ruri tersenyum, lucu juga ide itu.
Melly mengangguk. “Boleh juga ya…” dia langsung sibuk menggambar sketsa baju untuk Desi, Ruri, dan Eni.
Akhirnya mereka berlima jadi seru membicarakan rencana foto persahabatan itu.
Dua hari kemudian, baju rancangan Melly telah jadi. Dia minta bantuan Mamanya untuk menjahitkan. Mereka kemudian mendatangi studio foto milik Papanya Sasa. Mereka terkejut mendapati Sasa tengah memegang sebuah kamera besar.
“Sasa…”
Sasa hanya nyengir. “Hehe… aku diajarin Papaku juga. Ayo sini, aku yang fotoin.”
Suasana pemotretan berjalan dengan penuh canda tawa. Melly membantu Sasa bertindak sebagai pengarah gaya. Sebentar-sebentar dia memberikan instruksi kepada Ruri, Desi, dan Eni. Sasa asyik dengan kameranya. Gayanya benar-benar mirip fotografer professional!!!
Tak disangka-sangka, ternyata foto mereka dinyatakan sebagai pemenang. Ruri, Desi, dan Eni diundang untuk menerima piala persahabatan. Mereka senang sekali. Berlima, mereka datang ke tempat penyerahan piala.
Ruri didaulat teman-temannya untuk menerima piala.
“Terima kasih semuanya…” ujar Ruri saat piala persahabatan sudah diberikan kepadanya. “Kami berlima adalah sahabat karib. Tadinya kami sempat berselisih karena foto persahabatan hanya boleh tiga orang saja. Kami sudah hampir tidak jadi ikut lomba ini, tapi sahabat-sahabat saya memang adalah sahabat sejati. Walaupun yang muncul di foto itu hanya saya, Desi, dan Eni, namun Melly dan Sasa juga ikut membantu. Melly yang merancang baju yang kita kenakan waktu pemotretan, dan Sasa yang memotret kami …”
Para juri terperangah. Mereka tidak menyangka bahwa foto itu adalah hasil kerjasama anak-anak yang baru duduk di kelas VI SD.
“Persahabatan bukan hanya sekedar di saat suka saja. Bila ada masalah, sahabat sejati akan selalu bersama. Bila ada masalah, sahabat sejati akan memecahkannya bersama. Bila ada masalah, sahabat sejati tidak akan meninggalkan satu sama lain…”
Ruri tersenyum dan mengangkat piala itu tinggi-tinggi. Saat dia kembali ke tempat duduknya, Eni, Desi, Melly, dan Sasa memeluknya dengan erat. Memang persahabatan tidak dapat dihancurkan oleh apapun, tidak juga oleh selembar foto persahabatan.
“Ehmmm…. permisi….” seorang perempuan muda mendekati mereka. “Yang mana yang namanya Melly?”
Melly mengangkat tangannya, “Ada apa, Mbak?’
“Saya melihat hasil rancangan kamu, bagus sekali. Kamu mau ikut lomba perancang muda?”
Melly tersenyum senang, dia mengangguk penuh semangat.
“Maaf, yang mana yang namanya Sasa?” tanya seorang pemuda berkumis lebat.
“Saya…” Sasa mengacungkan tangannya.
“Ini…” pemuda itu menyodorkan sebuah selebaran. Lomba fotografi cilik, tertulis di sana. “Kami memohon partisipasi Anda untuk mengikuti lomba fotografi cilik.”
Sasa mengangguk kuat-kuat. Dia tersenyum lebar sekali.
“Maaf mengganggu… Desi, Eni, dan Ruri.” salah seorang anggota tim juri mendekati mereka.
“Yaaa…” sahut Desi, Eni, dan Ruri berbarengan.
“Kalian mau ya ikutan jadi model cilik. Gaya kalian fotogenik sekali. Kalian pasti bisa jadi model professional…”
Kali ini Ruri, Eni, dan Desi yang bersorak-sorai. Mereka berlima berpelukan sambil tertawa-tawa. Pesahabatan sejati memang dapat mendatangkan hal-hal yang indah!!!
Foto Persahabatan - By Irena - Copyrights 2007

PENCURIAN DI DESA BRONSA

Desa Bronsa sedang resah. Sudah empat malam terjadi pencurian di toko obat kerajaan. Pencurinya selalu mengambil obat yang sama. Padahal obat itu sangat mahal harganya. Raja Bronsa menawarkan hadiah 1000 keping emas bagi yang dapat menangkap pencurinya.

“Hadiah 1000 keping emas tidak sedikit… Andai aku tahu siapa pencurinya,” ujar Jacob si tukang kayu. Dia baru pulang dari pasar, menjual kayu bakar. Uangnya ingin ia berikan kepada sahabatnya, Andrew. Ibu Andrew sedang sakit. Jadi sudah empat hari ini Andrew tidak ikut menebang kayu.

“Moga-moga tiga keping emas ini cukup untuk membeli obat. Kasihan Andrew. Ia harus menjaga ibunya, dan tidak bisa ke hutan.”

“Andrew…”panggilnya begitu tiba di rumah Andrew. Dari dapur terdengar suara kelontangan panci, Jacob pun bergegas menuju dapur. Rupanya Andrew terkejut dengan kedatangan Jacob. Di tangannya terdapat sebuah bungkusan obat yang bercap kerajaan.

Jacob terkejut, “Dari mana kau dapatkan obat ini?”tanyanya.

“Aku mencurinya dari toko obat kerajaan. Habis ibuku perlu obat ini. Kata tabib, ibuku akan mati kalau tidak segera diobati.”

Jacob pucat pasi. Ternyata Andrew pencurinya! Bagaimana kalau prajurit kerajaan tahu? Desa Bronsa selalu menindak tegas orang yang melanggar peraturan, dam hukuman bagi pencuri adalah hukuman mati!

“Kau tidak boleh mencuri lagi!” larang Jacob.

“Tidak bisa! Ibuku harus minum obat ini enam kali berturut-turut. Hari ini baru empat kali ibuku minum obat ini. Aku haru mengambil obat ini lagi!”

“Tapi….:” Jacob tambah takut.
“Kalau kau sahabatku, aku mohon kau rahasiakan hal ini….”

Malamnya, Jacob tidak dapat tidur. Hatinya resah. Malam ini Andrew mencuri lagi. Dia ingin pergi bersamanya, tapi Andrew melarangnya ikut. Jacob berdoa supaya Andrew dapat kembali dengan selamat. Tiba-tiba…..

Tong tong tong….

Terdengar suara kentongan dipukul. Jacob pun berpakaian dan bergegas ke balai kota. Di sana sudah banyak orang berkumpul. Di atas panggung, tampak para prajurit membawa obor. Di tengah panggung ada seornag laki-laki yang diikat tali.

“Andrew..” pekik Jacob.

“Orang inilah yang mencuri di toko obat kerajaan!”seru hakim kerajaan.
“Ia harus dihukum gantung karena telah melanggar peraturan!” orang-orang berteriak-teriak. Raja dan ratu duduk di singgasana. Algojo memasang tali ke leher Andrew.

“Tunggu!” seru Jacob sambil menerobos kerumunan orang banyak. “Yang Mulia Raja dan Ratu, Yang Terhormat Hakim! Saya mohon dengarkanlah saya…,” ujarnya ketika berhasil tiba di hadapan Raja dan Ratu Bronsa.

Orang-orang terdiam.

“Saya tahu, teman saya ini bersalah. Tapi dia mencuri obat itu untuk menyembuhkan ibunya yang sakit keras. Hanya obat ini yang dapat menyembuhkannya. Obat ini sangat langka dan mahal, sementara kami hanya penebang kayu.”

“Oh, jadi kamu tahu kalau teman kamu mencuri, tapi tidak melaporkannya kepada kerjaan? Kalau begitu kamu juga harus dihukum!” teriak hakim kerajaan.
Dua orang algojo menarik Jacob naik ke atas panggung. Orang-orang kembali berteriak-teriak.

“Tunggu….,” titah Raja Bronsa. Orang-orang kembali terdiam. Beliau menatap Andrew, “Siapa namamu?”

“Andrew, Paduka.”

“Benar apa yang dikatakan sahabatmu? Kau mencuri obat ini untuk menyembuhkan sakit ibumu?” Andrew mengangguk pelan.

“Dan kau?” Raja Bronsa berpaling kepada Jacob.

“Nama saya Jacob, Paduka.”

“Paduka, jangan hukum sahabat saya. Sayalah yang bersalah. Dia tidak bersalah, dia hanya ingin melindungi saya.” Andrew berteriak-teriak.

“Lepaskan mereka berdua algojo,” perintah Raja Bronsa.

“Tapi….,” bantah hakim.

“Mereka sebenarnya tidak bermaksud jahat. Andrew mencuri karena ingin ibunya sembuh. Sementara Jacob..” Raja Bornsa menunjuk Jacob, “Dia hanya ingin melindungi sahabatnya, bukan dengan sengaja berbohong.”

“Sesungguhnya, aku juga bersalah karena kurang memperhatikan kesejahteraan rakyatku,” ujar Raja Bronsa. Raja mendekati Jacob dan Andrew. “Kalian berdua, maafkanlah aku,” tangan Raja memegang pundak kedua pemuda itu. “Mulai hari ini, semua pengobatan dan biaya obat untuk ibumu, akan ditanggung oleh kerajaan,” ujarnya kepada Andrew. “Peraturan ini jug aberlaku bagi semua rakyatku yang tercinta.”

Rakyat bersorak-sorai gembira.

Pencurian di Desa Bronsa - by Irena-

COKA SI KELINCI

Coka si kelinci coklat tampak melompat tanpa tujuan. Dia menendang-nendang batu, tanah, rating pohon, atau apa saja yang dia temukan di tanah. Tampaknya dia sedang kesal.
Pika si burung parkit yang kebetulan hinggap di sebuah pohon, melongokkan kepalanya untuk melihat Coka.
Ada apa Coka?” tanyanya. “Kenapa kau?”
“Aku kessssaaaalllll!!!!!” Coka berteriak kencang. “Aku sedang ingin santai-santai saja di liangku, namun tiba-tiba Pak Tupai masuk begitu saja ke dalam liangku. Dia membawa kedelapan anaknya yang nakal-nakal. Mereka seenaknya saja mengacak-acak liangku.”
Coka kembali menendang sebuah batu.
“Aku marah dan kuusir Pak Tupai karena menggangguku, tapi dia hanya tertawa terbahak-bahak. Dia dan semua binatang menganggapku binatang yang lucu, imut-imut, jinak… Mereka tidak takut dan menaruh hormat kepadaku. Aku tidak mau seperti itu!!!! Aku ingin jadi binatang buas!!!!! Mereka tidak akan berani berbuat seperti itu kepada binatang buas!!!”
Pika melongo heran. Baru kali ini dia mendengar ada kelinci yang ingin menjadi binatang buas. Baginya pikiran itu aneh.
“Ketika aku keluar dari liangku dan berjalan-jalan, segerombolan berang-berang menertawaiku dan mencubiti pipiku. Dan hal itu sudah sering terjadi. Kalau aku marah, mereka malah tertawa terbahak-bahak dan menganggap tingkahku lucu.”
“Aah… seandainya aku terlahir sebagai binatang buas, tentu tidak akan begini jadinya…” Coka menunduk putus asa.
Pika terbang rendah dan hinggap di akar pohon yang tumbuh di atas tanah. Melihat sahabatnya sedang gundah, Pika ingin menolong.
“Sepertinya aku tahu siapa yang dapat membantumu…” kata Pika.
Coka mengangkat wajahnya. “Cepat beritahu aku!!!” ujarnya dengan riang.
“Pak Keno si burung hantu, mungkin dia dapat membantumu…Dia adalah burung hantu yang bijaksana.”
“Tunggu apa lagi? Tunjukkan tempatnya padaku!!!”
Pika pun membawa Coka menemui Pak Keno.
Ada yang bisa saya bantu?” tanya Pak Keno sambil mempersilahkan Coka dan Pika duduk.
Coka segera bercerita. Dia menceritakan kekesalannya karena tidak dihormati oleh binatang-binatang lain dan kekesalannya terhadap tingkah laku binatang lain yang seenaknya saja masuk dan mengacak-acak liangnya. Dan juga tingkah laku binatang lain yang menertawai dan mencubiti pipinya setiap dia lewat.
“Itu semua membuatku kesal Pak Keno!!!” serunya mengakhiri ceritanya.
“Lalu apa yang kau inginkan sekarang?” tanyanya pelan.
“Aku ingin menjadi binatang buas!” sahut Coka cepat.
Dahi Pak Keno mengerut bingung, “Kenapa kau ingin menjadi binatang buas?”
“Binatang buas tidak akan diperlakukan seenaknya oleh binatang lain. Semua binatang menghormati, bahkan takut terhadap binatang buas!!!”
“Aku sudah mengasah gigiku…” Coka membuka lebar-lebar mulutnya agar Pak Keno, juga Pika, dapat melihat giginya. Pika memperhatikan gigi Coka. Memang gigi itu kini tajam seperti pisau! “Agar gigiku setajam gigi buaya, harimau, dan singa…”
“Aku juga berhenti makan wortel dan berburu binatang untuk kumakan. Seperti binatang buas…”
“Dan?” tanya Pak Keno.
Coka menggeleng, “Aku tidak berhasil berburu. Seperti yang aku katakan, tidak ada binatang yang takut kepadaku.”
“Apa yang harus kulakukan?” tanya Coka dengan wajah putus asa.
“Anggapanmu bahwa binatang buas ditakuti oleh binatang-binatang lain memang benar, tapi apakah mereka bahagia dengan keadaan mereka yang seperti itu?”
Coka menggelengkan kepalanya kuat-kuat, “Aku tidak mau tahu!!! Aku ingin menjadi binatang buas!!!”
Pak Keno menghela napasnya, “Baiklah. Aku hanya punya satu nasehat untukmu. Ikutilah binatang buas. Perhatikan segala tingkah laku binatang buas. Belajarlah dari mereka.”
Dalam perjalanan pulang, Coka dan Pika bertemu dengan seekor beruang besar. Tubuhnya besar sekali. Tangannya besar dengan kuku-kuku setajam pisau. Ketika dia menggeram, tampak gigi-gigi yang kuat dan tajam.
“Aku akan mengikuti dia!!!” seru Coka sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
Dia berdiri dan berjalan mengendap-endap di belakang si beruang besar. Pika terbang rendah mengikuti Coka. Sepanjang hari, Coka dan Pika mengikuti si beruang besar. Selama itu, Coka mempelajari semua tindak-tanduknya. Coka memperhatikan bagaimana dia menggeram, melompat, mencakar, menerkam, menggigit. Setiap kali si beruang besar lewat, semua binatang menyingkir ketakutan.
Coka senang. Dia mulai merasa bahwa dia telah menjadi binatang buas yang sesungguhnya. Pika, sebaliknya, tidak terlalu suka perjalanan ini. Dia tidak suka melihat teman-temannya menyingkir ketika dia lewat. Hanya saja, dia merasa kasihan melihat Coka dan ingin menemaninya.
Ketika malam tiba, Coka dan Pika tidur dekat si beruang besar. Baru saja Coka hendak memejamkan matanya, dia mendengar isak tangis. Dia terbangun dengan telinga tegak.
Ada apa, Coka?” gumam Pika tidak jelas.
“Aku mendengar suara tangisan.” Coka mengangguk-angguk. “Siapa gerangan yang sedang menangis?”
Pika mempertajam pendengarannya. Benar, ada suara tangisan.
Coka dan Pika mendekati si beruang besar dan suara isak tangis itu bertambah jelas. Ternyata si beruang besar yang sedang menangis. Tubuhnya turun-naik seiring dengan isakan tangisnya.
“Hhhaa… hallo…” Coka dan Pika memberanikan diri untuk menyapa si beruang besar.
Si beruang besar menoleh. Dia menyeka air matanya. “Hallo…” balasnya sedih.
“Mengapa kau menangis?” tanya Coka.
“Tidak ada binatang yang mau menjadi temanku. Semuanya takut dan menyingkir bila aku lewat. Padahal aku sangat ingin bermain bersama mereka…”
Coka terkejut. Ternyata si beruang besar malah tidak mau ditakuti oleh binatang lain!
“Ta… tapi, bukankah itu tandanya mereka takut kepada binatang buas sepertimu? Tandanya mereka menghormati dan menyeganimu?” tanyanya.
“Untuk apa ditakuti, disegani, dan dihormati?!?!?! Aku kesepian!!! Aku ingin punya banyak teman!!!”
Pika dan Coka terdiam.
“Kupikir dengan menjadi binatang buas, semua binatang akan menghormatiku. Mereka tidak akan berani seenaknya kepadaku.” ujar Coka pelan
“Percayalah… tidak enak rasanya ditakuti oleh binatang lain. Aku lebih suka punya banyak teman daripada ditakuti binatang-binatang lain.”
Si beruang besar kembali menangis tersedu-sedu.
“Kami mau menjadi temanmu.” ujar Pika. Dia terbang dan hinggap di bahu si beruang besar.
“Sungguh????” tanya si beruang besar dengan mata berbinar.
“Ya… kami mau menjadi temanmu.” ujar Coka. “Kami akan selalu menemanimu.”
Sejak saat itu, Coka, Pika, dan si beruang besar berteman baik. Coka dan Pika mengajari si beruang besar makan madu dan dia berhenti berburu. Binatang-binatang lain pun tidak takut lagi kepada si beruang besar, sebaliknya, mereka jadi menyukai si beruang besar.
Bagaimana dengan Coka? Apakah dia masing ingin menjadi kelinci buas? Tidak. Dia kemudian sadar kalau ternyata lebih baik disukai semua binatang daripada ditakut dan kesepian.

Kamis, 31 Juli 2008

Sembilan Nyawa Kucing

Di negeri hewan ada seekor hewan yang sangat baik hati. Tahukah kau hewan apa itu? Hewan yang baik hati itu adalah kucing. Kucing sangat baik hati. Dia selalu menolong hewan lain yang sedang kesusahan. Tidak jarang dia sampai mengorbankan dirinya sendiri demi menolong hewan-hewan yang lain.

Pernah suatu kali seekor kucing menolong seekor burung yang terjatuh ke sungai. Air di sungai itu sangat deras. Si kucing berhasil menyelamatkan burung, tapi dia sendiri tidak kuat melawan arus air sungai yang deras. Si kucing pun mati tenggelam.

Pernah juga suatu kali seekor kucing menolong kambing yang akan dimangsa singa. Sekuat tenaga dia mengeong, mencakar, dan menendang singa yang akan memangsa kambing. Si kambing memang selamat, namun pada akhirnya si kucing yang kemudian dimangsa oleh sang singa.
Lain waktu, seekor kucing menolong seekor kelinci yang entah bagaimana naik ke pohon yang tinggi namun tidak dapat turun lagi. Si kucing berhasil membantu si kelinci turun dengan selamat, namun karena batang pohon yang dijadikan pijakan sudah tidak kuat menahan berat badan kucing, maka si kucing terjatuh ke tanah dan mati.

Raja Kucing sangat resah melihat hal ini. Dia sendiri adalah seekor kucing yang sangat suka menolong hewan lain, namun kalau terus-menerus harus mengorbankan diri sendiri, maka lama-kelamaan kucing yang ada di negeri hewan tentu akan musnah. Raja Kucing tidak mau kalau sampai kaumnya musnah. Maka suatu hari dia menemui Dewa Hutan untuk berkeluh kesah.
Dewa Hutan tinggal di jantung hutan. Rumahnya dikelilingi oleh bermacam-macam jenis tumbuh-tumbuhan. Rumahnya terbuka untuk semua tumbuhan dan hewan yang ingin datang berkunjung.
Raja Kucing kemudian menceritakan semua yang meresahkan hatinya itu. Dewa Hutan mendengarkan segala keluh kesah Raja Kucing dengan penuh perhatian.

“Baiklah… Aku akan membantu kaum kucing.” titahnya sambil berdiri. “Mulai saat ini akan kuberikan anugrah kuku yang kuat bagi kaum kucing, sehingga mereka dapat naik ke atas pohon untuk menolong binatang yang lain.”

Sejak saat itu, kucing memiliki kuku yang tajam. Mereka dapat naik ke atas pohon dengan cara menancapkan kuku-kuku mereka pada batang pohon.

Apakah masalahnya selesai begitu saja???

Ternyata tidak. Kaum kucing masih terus selalu menolong teman-temannya yang kesusahan, baik siang maupun malam. Pada malam hari, penglihatan mereka tidak terlalu baik. Alih-alih menolong teman yang kesusahan, mereka seringkali terjebak sendiri dalam situasi yang membahayakan jiwa mereka sendiri pada malam hari. Kuku yang kuat tidak dapat menolong mereka ketika mereka menyelamatkan teman-teman yang kesusahan pada malam hari. Kembali Raja Kucing menghadap kepada Dewa Hutan. Raja Kucing kembali menceritakan segala kerisauan hatinya.

Dewa Hutan mengangguk-anggukkan kepalanya, mendengarkan dengan serius apa yang dikatakan oleh Raja Kucing.

“Kalau begitu…” titahnya, “Akan kutambahkan anugrah baru kepada kaum kucing. Karena mereka adalah kaum yang baik hati, yang selalu bersedia menolong teman yang sedang kesusahan, kepada mereka kuanugrahkan mata yang bercahaya pada malam hari!!!”
Sejak saat itu, mata kucing selalu bersinar bila malam hari. Hal itu memudahkan mereka untuk melihat dalam gelap.

Namun, rupanya masalah belum selesai sampai di sana saja. Seperti yang sudah diceritakan tadi, kucing tidak segan-segan menolong temannya yang akan dimangsa hewan buas. Tentu saja kucing tidak akan menang melawan para hewan buas, pada akhirnya mereka lah yang kemudian akan dimangsa oleh hewan buas seperti singa, macan, beruang, buaya.

Ketika suatu saat terjadi kebakaran hutan yang hebat, kucing juga tidak segan-segan menolong teman-temannya yang terjebak dalam kobaran api. Banyak sekali kucing yang tewas terbakar karena menolong teman-temannya. Raja Kucing sungguh-sungguh khawatir akan kelangsungan hidup kaum kucing di hutan. Biarpun sudah diberi anugrah kuku yang kuat dan mata yang bercahaya pada malam hari oleh Dewa Hutan, namun tetap saja anugrah istimewa itu tidak banyak membantu.

Untuk ketiga kalinya, Raja Kucing kembali menghadap kepada Dewa Hutan.

“Sebelumnya, saya mohon ampun bila kedatangan saya kembali mengganggu ketenangan Dewa Hutan, namun sifat penolong kaum kucing yang berlebihan masih terus meresahkan hati saya…” keluh Raja Kucing kepada Dewa Hutan.

Kali ini Dewa Hutan tidak langsung memberikan anugrah baru kepada kaum kucing. Butuh waktu berhari-hari bagi Dewa Hutan untuk memikirkan apa yang harus dilakukan kepada kaum kucing. Pada hari kelima, Dewa Hutan memanggil Raja Kucing untuk menghadap.

“Sudah kupikirkan baik-baik apa yang harus kulakukan kepada kaum kucing. Pada dasarnya mereka memang memiliki sifat penolong dan sifat itu baik adanya, jadi biarlah mereka terus menolong teman-teman yang sedang kesusahan. Namun, sifat penolong yang berlebihan dapat merugikan diri mereka sendiri. Untuk itu aku menganugrahkan sembilan nyawa kepada kaum kucing. Mereka boleh menggunakan 8 nyawa mereka untuk menolong teman-teman dalam bahaya, namun nyawa ke-9 harus mereka sisakan untuk diri mereka sendiri.”

Sejak saat itu, kucing memiliki 9 nyawa. Mereka dapat mengorbankan 8 nyawa mereka untuk menolong teman-teman yang sedang dalam bahaya, namun nyawa ke-9 harus mereka sisakan untuk kelangsungan hidup mereka sendiri.

Raja Kucing sangat bahagia dengan anugrah itu, sekarang tidak ada lagi kucing yang mati gara-gara menolong sesama binatang lainnya.


Sembilan Nyawa Kucing - By Irena - Copyright 2005

Rabu, 23 Juli 2008

Rane, si Peri Bunga

Rane berlutut di tepi sungai. Wajahnya dicondongkan sehingga bayangannya terpantul dari air sungai. Dari tepi sungai dia dapat melihat bayangannya sendiri. Dia melihat pantulan bayangan peri bunga yang berkulit coklat, dengan mata yang berwarna hitam, dan dengan rambut hitam keriting. Di atas rambutnya tumbuh rumput-rumput liar. Peri bunga memang selalu memiliki tanaman yang tumbuh di atas rambut mereka, tapi Rane tidak ingin rumput liar tumbuh di atas rambutnya.

Dia mendongakkan kepala dan memandang Adelle yang sedang menggembalakan domba-dombanya. Adelle adalah peri bunga yang cantik. Kulitnya putih, matanya berwarna biru, rambutnya yang panjang dan berwarna coklat selalu berkilauan disinari matahari. Di atas rambutnya tumbuh berbagai macam bunga yang indah. Ada bunga matahari, bunga mawar, dan juga bunga melati . Semuanya adalah bunga yang cantik. Rane ingin bunga-bunga yang cantik juga tumbuh di atas rambutnya. Dia pernah mencoba menaruh bibit bunga mawar di atas rambutnya, tapi bunga mawar yang cantik itu tidak pernah tumbuh. Rambut Rane yang hitam keriting bukanlah tempat yang baik untuk bunga mawar. Rambut Rane hanya dapat ditumbuhi oleh rumput-rumput liar yang, menurut Rane, sama sekali tidak cantik.

Rane duduk memandangi anak-anak rusa yang digembalakannya. Mereka berlompat-lompat dengan lincahnya. Sekali lagi Rane mengalihkan pandangan kepada kulitnya yang berwarna coklat. Kelihatan kusam dan sama sekali tidak menarik!!! Dia ingin punya kulit putih seperti Adelle. Dia juga tidak menyukai matanya yang berwarna hitam. Dia ingin punya mata yang berwarna biru seperti Adelle. Rane mendengus kesal, rasanya dia sama sekali tidak cantik! Rane kembali memandang Adelle yang saat ini sedang bercanda dengan domba-dombanya. Adelle tersenyum senang dan terlihat semakin cantik saja!!!

Ketika itu, seorang peri bunga lain datang. Namanya Matine. Dia adalah sahabat Rane. Matine adalah peri bunga laki-laki, di atas kepalanya tumbuh tanaman kaktus.

“Hai Rane, apa yang kau lakukan?” sapanya. Dia lalu duduk di sebelah Rane, dan membaringkan tubuhnya. Tangannya diletakkan di bawah kepalanya. Rane tidak menjawab, matanya masih terus memperhatikan Adelle. Matine kemudian juga ikut memperhatikan Adelle yang masih tertawa-tawa bersama dombanya.

“Ooh, memperhatikan Adelle lagi ya?” ujarnya.

“Kenapa ya, aku tidak secantik dia?” tanya Rane. “Aku juga tidak dapat menumbuhkan bunga mawar yang cantik di atas kepalaku.”

Matine tertawa kecil, “Tidak ada yang sempurna. Meskipun rupamu tidak secantik Adelle, bukan berarti kamu tidak sempurna. Adelle juga, meskipun dia sangat cantik, tapi ada hal yang menjadi kekurangannya.”

Rane menoleh ke arah Matine, “Kekurangan?! Aku tidak tahu kalau dia punya kekurangan. Kekurangan apa yang kau maksud?”

Matine tidak menjawab. Dia hanya tertawa lalu memejamkan matanya.

Rane kembali memandang Adelle. Dia coba menduga-duga apa kekurangan Adelle, tapi tidak berhasil menemukan sesuatu yang menjadi kekurangannya. Rasanya Adelle sangat sempurna dan tidak memiliki kekurangan apapun. Rane kemudian juga merebahkan tubuhnya di samping Matine dan tertidur.

Rasanya belum lama dia tidur, ketika ada yang mengguncang-guncangkan bahunya. Rane membuka matanya dan tampak sosok Adelle yang sedang menangis. Rane bangun.

“Kenapa kau?” tanyanya. Pada saat itu, Matine juga terbangun

Adelle masih terisak-isak, “Dombaku jatuh ke tebing, aku sudah menolongnya, tapi kakinya terluka.” Adelle menangis lagi.

“Lalu? Bernyanyilah untuknya.” Peri bunga adalah tabib yang paling baik. Kalau ada yang sakit atau terluka, mereka akan bernyanyi, dan segala sakit atau luka akan sembuh dengan cepat.

Mata Adelle yang indah mengejap-ngejap gelisah. “Aku…. aku….aku tidak bisa bernyanyi.” Adelle tampak malu mengatakannya. “Dari dulu aku tidak bisa bernyanyi dengan baik. Suaraku jelek.”

Adelle memandang domba yang terluka itu dalam gendongannya. Kaki domba itu terluka parah, darah masih mengalir dari lukanya yang menganga. Agaknya kakinya terkena goresan batu ketika terjatuh.

“Oh, Rane…. tolonglah dombaku. Bernyanyilah untuk dia, kalau tidak dia akan mati.” Adelle menangis lagi.

Rane memandang domba kecil yang tampak kepayahan itu. Rane sangat menyukai binatang. Dia menyayangi semua binatang. Meskipun dia agak iri dengan Adelle, dia tidak tahan melihat si domba kecil yang kepayahan menahan sakit. Rane mengambil si domba kecil dari gendongan Adelle, dia menimang-nimang domba itu dalam pelukannya sambil menyanyikan sebuah lagu yang indah. Suara yang keluar dari mulutnya sangat jernih. Rusa-rusa gembalaannya berkumpul di sekeliling Rane, ikut mendengarkan sementara dia bernyanyi untuk domba kecil Adelle. Bunga-bunga di padang rumput itu juga ikut mendengarkan nyanyian Rane. Mereka semua mengarahkan mahkotanya ke arah Rane.

Luka pada kaki si domba kecil perlahan-lahan menutup dan kemudian hilang tak berbekas. Si domba kecil memandang Rane dengan pandangan terima kasih. Rane balas memandang si domba kecil. “Sekarang kamu sudah sembuh. Jangan nakal lagi ya. Jangan bermain terlalu jauh dari Adelle.” Rane melepaskannya. Si domba kecil melompat-lompat di sekeliling Rane, seperti ingin mengucapkan terima kasih.

“Terima kasih Rane.” Rane menoleh ke arah Adelle. “Suaramu indah sekali. Aku ingin sekali punya suara seindah suaramu.”

Rane tersenyum, “Terima kasih.” katanya kepada Adelle. Adelle pun kembali ke kawanan dombanya. Si domba kecil mengikuti dari belakang.

“Bagaimana?” tanya Matine yang sedari tadi hanya memperhatikan mereka berdua. “Sudah tahu kekurangan Adelle?”

Rane mengangguk.

“Masih menganggap Adelle peri yang paling sempurna?”

Rane menggeleng.

“Aku sama sekali tidak tahu kalau Adelle tidak bisa bernyanyi. Setahuku, semua peri bunga bisa bernyanyi. Aku sendiri tidak menganggap suaraku istimewa, tapi aku sama sekali tidak tahu kalau
Adelle tidak bisa bernyanyi.”

Matine tertawa kecil, “Kamu terlalu sibuk memperhatikan kekuranganmu sehingga tidak menyadari kelebihanmu. Suaramu yang indah adalah kelebihanmu. Mulai sekarang, jangan selalu menganggap dirimu peri yang buruk rupa. Ingatlah bahwa kau punya suara yang indah, suara yang tidak dimiliki peri-peri lain, bahkan peri secantik Adelle.”

Rane tersenyum memandang Matine. Dia kemudian menyanyikan sebuah lagu untuk Matine dan rusa-rusanya. Lagu yang indah tentang kebahagiaan.

Rane, Si Peri Bunga - By Irena - Copyright 2003

Rane, The Flower-Fairy

Rane is kneeling down on the side of the river. She looks at her shadow. It’s a shadow of a dark skin flower-fairy, with dark-coloured eyes, and black bushy hair. On top of her hair, grow the wild grasses. Flower fairies always have some plans on top of their hair, but Rane doesn’t want any wild grass on her hair!!!

She looks up and sees Adelle who’s watching over her lambs. Adelle is the most beautiful flower-fairy. Her skin is fair, her eyes are blue, her hair, which is long and brunette, is always shiny. On top of her hair, grow a lot of beautiful flowers. There are sunflowers, roses, and jasmines. All of them are the most beautiful flower in the world. Rane wants all that beautiful flowers also. She has tried to put some roses seed on her hair, but the beautiful rose never appears. Her black and bushy hair is not a good place for the flower to grow. It can only carries the wild grass, which is not beautiful at all!!!

Rane sits and looks at her deers. They all are galloping here and there. Once again, Rane looks at her dark skin. It looks dirty and not pretty at all!!! She wants a fair skin like Adelle’s. She also doesn’t like her dark-coloured eyes. She would like the blue eyes like Adelle’s. Rane feels so crossed. She is very unpretty. Rane looks at Adelle whose now is playing with her lambs. Adelle is smilling and she looks even much prettier!!!

That time, a male flower-fairy, called Matine comes and sit next to Rane. He has cactus-plant on top of his hair.

“Hi Rane. What are you doing?” he asks Rane. He lays down and waits for Rane’s answer.

But Rane doesn’t seem to pay attention. Her eyes still look at Adelle. Matine then looks at Adelle.

“There you go… Still watching of Adelle?”

“Why can’t I look as pretty as she?” ask Rane, more to herself than to Matine. “I also cannot grow any beautiful flower on top of my hair.”

Matine laughs. “There’s no such thing as perfect as you think. Tough you don’t look as pretty as Adelle, doesn’t mean that you’re not perfect. So does Adelle. Though she looks so pretty, she has her minus too.”

Rane, looks so surprise, can’t believe her ears. “She has her minus? I can’t believe that. She is so perfect…”

Matine doesn’t answer. He closes his eyes and falls a sleep.

Rane looks at Adelle. She trys to figure out what’s her minus, but she can’t think of any. She is so perfect. How can a perfect flower-fairy like Adelle has a minus??? No way!!! Rane then lays down and falls a sleep.

It seems just a minute when somebody wakes her up. Rane opens her eyes and sees Adelle, with tears run down her cheeks.

“What happened?”

Adelle is still crying. “One of my lamb falls down the riverbank. I helped her to get up, but her feet is badly injured.”

“Then? Just sing for her…”

Flower fairy is the best curer for all injuries or wound. When somebody is hurt, all they have to do is just sing, and it will cure all the injury or the wound.

Adelle looks so shy, “I can’t sing. My voice is so bad.” She looks at the injured lamb. A lot of blood comes out from the wounded leg. It seems that the rocks scratched the leg when she fell down.
“Oh Rane. Please help my little lamb. Sing for her or otherwise, she’ll be dead!!!”

Rane looks at the little lamb. She loves animal so much and it’s hurt her feeling to see that little lamb. Rane takes the lamb and carry her so gentle. She sings a beautiful song. Her voice is so clear. All of her deers come close and gather around just to hear her song. All the flowers in the meadow are also listening to her song.

The wounded lamb get well so soon. She looks at Rane, her eyes are full of thanks.

“There you go. Don’t play too far from Adelle.”

The little lamb galloping around Rane, as if she wants to thanks Rane.

“Thanks a lot, Rane. Such a beautiful voice you have. I really envy you.”

Rane smiles, “You’re welcome.”

Then Adelle goes back to her lambs. The little lamb follows her.

“So?” Matine is watching all the time, “Do you know her minus?’

Rane nods her head.

“Still thinking that she is the perfect flower-fairy?”

She shakes her head. “I don’t know that she can’t sing. What I know
is every flower-fairy can sing. I don’t think my voice is special, but I really don’t know that Adelle can’t sing at all.”

Matine smiles, “You’re too busy searching for your minus that you don’t realize your beautiful voice. From now on, don’t just focus on your minus, but remember, you have a beautiful voice that not all the flower-fairies have, even the prettiest fairy like Adelle.”

Rane smiles and start to sing for Matine and for her deers. A beautiful song about happiness.

Rane, The Flower-Fairy - By Irena - Copyright 2003