Ada kesalahan di dalam gadget ini

Kamis, 07 Agustus 2008

FOTO PERSAHABATAN

Ruri lagi santai-santai di kamarnya. Di pangkuannya terdapat majalah remaja yang baru saja dipinjamnya dari Kak Echi.
“Wah… foto persahabatan!!!!” mata Ruri terpaku pada salah satu halaman dari majalah itu. Itu adalah pengumuman tentang lomba foto persahabatan. Ruri langsung teringat akan empat sahabatnya, Eni, Sasa, Desi, dan Melly. Tapi….
“Peserta harus sudah duduk di kelas VI SD. Foto persahabatan terdiri dari maksimal 3 orang, mengenakan pakaian casual. Foto harus bertemakan persahabatan …” Ruri membaca pelan. “Wah… maksimal 3 orang, sementara kita semua berlima… Wahh… nggak bisa deh…” Ruri menggeleng pelan.
“Hai Ruri!!!!”
Tiba-tiba, Eni, Sasa, Desi, dan Melly masuk ke dalam kamarnya.
“Hai…. dari tadi ditungguin kok baru datang sekarang…”
Keempat sahabatnya hanya tertawa saja.
“Ini, Mamaku tadi buatin makanan kecil buat kita semua…” Desi menyodorkan sekantong penuh kue kering buatan mamanya.
“Waah… pasti enak deh!!!”
Berlima mereka menikmati kue kering pemberian Mama Desi.
“Eeh.. apa nih?” Melly mengambil majalah yang tadi diletakkan Ruri begitu saja. “Foto persahabatan???”
Ruri mengangguk, “Tapi kita nggak bisa ikutan. Soalnya maksimal cuma bertiga aja…”
“Waah sayang ya… padahal lucu tuh ya kalau kita ikutan…”desah Sasa.
“Iya… lucu juga…” Eni menimpali.
Ruri terpekur. Sampai keesokan harinya, lomba foto persahabatan itu terus mengganggu pikirannya. Dia ingin mengikuti lomba itu, tapi siapa yang akan dipilihnya untuk berfoto bersamanya??? Mereka kan bersahabat lima orang, kalau hanya dipilih 3 orang, tentu saja harus ada yang dikorbankan. Tapi, siapa yang mau dikorbankan???
Sore ini mereka berlima berkumpul di rumah Desi.
“Aku kepikiran terus nih sama lomba foto persahabatan…” ujar Desi.
Ruri yang sedang baca komik jadi kaget. Ternyata Desi juga berpikiran sama dengan dirinya!!!
“Kita kan udah kelas VI, kita bersahabat, jadi harusnya kita bisa ikut lomba foto persahabatan itu…”
“Tapi kan… harus bertiga aja, sedangkan kita semua berlima.” kata Eni.
“Ya… kalau begitu, kita pilih aja tiga orang dari kita…” ujar Desi.
“Jadi maksud kamu pilih yang paling cantik di antara kita berlima!!!” mata Melly membulat. “Udah pasti aku nggak kepilih deh!!! Aku kan jelek, gendut, kalau dibandingin sama kamu mah jauh…” ujarnya sedikit sewot.
Tuuh kan!!! Jadi berantem deh….
“Aku… aku nggak bermaksud begitu…” ujar Desi tergagap-gagap.
“Maksud kamu apa jadinya?!?!?!” kali ini Sasa menimpali. “Aku juga pasti nggak bakal kepilih kan?! Aku kan kurus, ceking, mana bisa dibandingin sama kamu, Ruri, atau Eni?!?!?!”
“Aduh, udah deh!!!!” Ruri buru-buru melerai. “Nggak usah diributin. Kita nggak usah ikutan foto persahabatan itu aja.”
Tapi, suasana terlanjur tidak enak. Melly dan Sasa langsung pura-pura sibuk, Desi tampak serba salah, sementara Eni tampak bingung harus membela yang mana.
Ruri tidak suka suasana seperti ini.
“Sudahlah teman-teman. Kita semua kan bersahabat, jangan ngambek-ngambekan gitu dong.” ujarnya bersuaha mencairkan suasana.
“Iya maaf deh.” ujar Desi “Aku kan cuma pengen ikutan lomba ini aja. Kan lucu loh. Lagipula hadiahnya menarik. Tapi… kalau itu membuat kalian ngambek, ya nggak usah aja deh…”
“Daripada kita ribut-ribut, mendingan begini aja deh…” Eni tiba-tiba nyeletuk. “Yang ikutan foto biar aku, Ruri, dan Desi. Melly kan jagoan design baju, nah biar Melly yang ngerancang baju kita. Nah, Sasa… Papa kamu kan fotografer, kamu bisa minta bantuan papa kamu untuk fotoin kita.…”
Ruri tersenyum, lucu juga ide itu.
Melly mengangguk. “Boleh juga ya…” dia langsung sibuk menggambar sketsa baju untuk Desi, Ruri, dan Eni.
Akhirnya mereka berlima jadi seru membicarakan rencana foto persahabatan itu.
Dua hari kemudian, baju rancangan Melly telah jadi. Dia minta bantuan Mamanya untuk menjahitkan. Mereka kemudian mendatangi studio foto milik Papanya Sasa. Mereka terkejut mendapati Sasa tengah memegang sebuah kamera besar.
“Sasa…”
Sasa hanya nyengir. “Hehe… aku diajarin Papaku juga. Ayo sini, aku yang fotoin.”
Suasana pemotretan berjalan dengan penuh canda tawa. Melly membantu Sasa bertindak sebagai pengarah gaya. Sebentar-sebentar dia memberikan instruksi kepada Ruri, Desi, dan Eni. Sasa asyik dengan kameranya. Gayanya benar-benar mirip fotografer professional!!!
Tak disangka-sangka, ternyata foto mereka dinyatakan sebagai pemenang. Ruri, Desi, dan Eni diundang untuk menerima piala persahabatan. Mereka senang sekali. Berlima, mereka datang ke tempat penyerahan piala.
Ruri didaulat teman-temannya untuk menerima piala.
“Terima kasih semuanya…” ujar Ruri saat piala persahabatan sudah diberikan kepadanya. “Kami berlima adalah sahabat karib. Tadinya kami sempat berselisih karena foto persahabatan hanya boleh tiga orang saja. Kami sudah hampir tidak jadi ikut lomba ini, tapi sahabat-sahabat saya memang adalah sahabat sejati. Walaupun yang muncul di foto itu hanya saya, Desi, dan Eni, namun Melly dan Sasa juga ikut membantu. Melly yang merancang baju yang kita kenakan waktu pemotretan, dan Sasa yang memotret kami …”
Para juri terperangah. Mereka tidak menyangka bahwa foto itu adalah hasil kerjasama anak-anak yang baru duduk di kelas VI SD.
“Persahabatan bukan hanya sekedar di saat suka saja. Bila ada masalah, sahabat sejati akan selalu bersama. Bila ada masalah, sahabat sejati akan memecahkannya bersama. Bila ada masalah, sahabat sejati tidak akan meninggalkan satu sama lain…”
Ruri tersenyum dan mengangkat piala itu tinggi-tinggi. Saat dia kembali ke tempat duduknya, Eni, Desi, Melly, dan Sasa memeluknya dengan erat. Memang persahabatan tidak dapat dihancurkan oleh apapun, tidak juga oleh selembar foto persahabatan.
“Ehmmm…. permisi….” seorang perempuan muda mendekati mereka. “Yang mana yang namanya Melly?”
Melly mengangkat tangannya, “Ada apa, Mbak?’
“Saya melihat hasil rancangan kamu, bagus sekali. Kamu mau ikut lomba perancang muda?”
Melly tersenyum senang, dia mengangguk penuh semangat.
“Maaf, yang mana yang namanya Sasa?” tanya seorang pemuda berkumis lebat.
“Saya…” Sasa mengacungkan tangannya.
“Ini…” pemuda itu menyodorkan sebuah selebaran. Lomba fotografi cilik, tertulis di sana. “Kami memohon partisipasi Anda untuk mengikuti lomba fotografi cilik.”
Sasa mengangguk kuat-kuat. Dia tersenyum lebar sekali.
“Maaf mengganggu… Desi, Eni, dan Ruri.” salah seorang anggota tim juri mendekati mereka.
“Yaaa…” sahut Desi, Eni, dan Ruri berbarengan.
“Kalian mau ya ikutan jadi model cilik. Gaya kalian fotogenik sekali. Kalian pasti bisa jadi model professional…”
Kali ini Ruri, Eni, dan Desi yang bersorak-sorai. Mereka berlima berpelukan sambil tertawa-tawa. Pesahabatan sejati memang dapat mendatangkan hal-hal yang indah!!!
Foto Persahabatan - By Irena - Copyrights 2007

PENCURIAN DI DESA BRONSA

Desa Bronsa sedang resah. Sudah empat malam terjadi pencurian di toko obat kerajaan. Pencurinya selalu mengambil obat yang sama. Padahal obat itu sangat mahal harganya. Raja Bronsa menawarkan hadiah 1000 keping emas bagi yang dapat menangkap pencurinya.

“Hadiah 1000 keping emas tidak sedikit… Andai aku tahu siapa pencurinya,” ujar Jacob si tukang kayu. Dia baru pulang dari pasar, menjual kayu bakar. Uangnya ingin ia berikan kepada sahabatnya, Andrew. Ibu Andrew sedang sakit. Jadi sudah empat hari ini Andrew tidak ikut menebang kayu.

“Moga-moga tiga keping emas ini cukup untuk membeli obat. Kasihan Andrew. Ia harus menjaga ibunya, dan tidak bisa ke hutan.”

“Andrew…”panggilnya begitu tiba di rumah Andrew. Dari dapur terdengar suara kelontangan panci, Jacob pun bergegas menuju dapur. Rupanya Andrew terkejut dengan kedatangan Jacob. Di tangannya terdapat sebuah bungkusan obat yang bercap kerajaan.

Jacob terkejut, “Dari mana kau dapatkan obat ini?”tanyanya.

“Aku mencurinya dari toko obat kerajaan. Habis ibuku perlu obat ini. Kata tabib, ibuku akan mati kalau tidak segera diobati.”

Jacob pucat pasi. Ternyata Andrew pencurinya! Bagaimana kalau prajurit kerajaan tahu? Desa Bronsa selalu menindak tegas orang yang melanggar peraturan, dam hukuman bagi pencuri adalah hukuman mati!

“Kau tidak boleh mencuri lagi!” larang Jacob.

“Tidak bisa! Ibuku harus minum obat ini enam kali berturut-turut. Hari ini baru empat kali ibuku minum obat ini. Aku haru mengambil obat ini lagi!”

“Tapi….:” Jacob tambah takut.
“Kalau kau sahabatku, aku mohon kau rahasiakan hal ini….”

Malamnya, Jacob tidak dapat tidur. Hatinya resah. Malam ini Andrew mencuri lagi. Dia ingin pergi bersamanya, tapi Andrew melarangnya ikut. Jacob berdoa supaya Andrew dapat kembali dengan selamat. Tiba-tiba…..

Tong tong tong….

Terdengar suara kentongan dipukul. Jacob pun berpakaian dan bergegas ke balai kota. Di sana sudah banyak orang berkumpul. Di atas panggung, tampak para prajurit membawa obor. Di tengah panggung ada seornag laki-laki yang diikat tali.

“Andrew..” pekik Jacob.

“Orang inilah yang mencuri di toko obat kerajaan!”seru hakim kerajaan.
“Ia harus dihukum gantung karena telah melanggar peraturan!” orang-orang berteriak-teriak. Raja dan ratu duduk di singgasana. Algojo memasang tali ke leher Andrew.

“Tunggu!” seru Jacob sambil menerobos kerumunan orang banyak. “Yang Mulia Raja dan Ratu, Yang Terhormat Hakim! Saya mohon dengarkanlah saya…,” ujarnya ketika berhasil tiba di hadapan Raja dan Ratu Bronsa.

Orang-orang terdiam.

“Saya tahu, teman saya ini bersalah. Tapi dia mencuri obat itu untuk menyembuhkan ibunya yang sakit keras. Hanya obat ini yang dapat menyembuhkannya. Obat ini sangat langka dan mahal, sementara kami hanya penebang kayu.”

“Oh, jadi kamu tahu kalau teman kamu mencuri, tapi tidak melaporkannya kepada kerjaan? Kalau begitu kamu juga harus dihukum!” teriak hakim kerajaan.
Dua orang algojo menarik Jacob naik ke atas panggung. Orang-orang kembali berteriak-teriak.

“Tunggu….,” titah Raja Bronsa. Orang-orang kembali terdiam. Beliau menatap Andrew, “Siapa namamu?”

“Andrew, Paduka.”

“Benar apa yang dikatakan sahabatmu? Kau mencuri obat ini untuk menyembuhkan sakit ibumu?” Andrew mengangguk pelan.

“Dan kau?” Raja Bronsa berpaling kepada Jacob.

“Nama saya Jacob, Paduka.”

“Paduka, jangan hukum sahabat saya. Sayalah yang bersalah. Dia tidak bersalah, dia hanya ingin melindungi saya.” Andrew berteriak-teriak.

“Lepaskan mereka berdua algojo,” perintah Raja Bronsa.

“Tapi….,” bantah hakim.

“Mereka sebenarnya tidak bermaksud jahat. Andrew mencuri karena ingin ibunya sembuh. Sementara Jacob..” Raja Bornsa menunjuk Jacob, “Dia hanya ingin melindungi sahabatnya, bukan dengan sengaja berbohong.”

“Sesungguhnya, aku juga bersalah karena kurang memperhatikan kesejahteraan rakyatku,” ujar Raja Bronsa. Raja mendekati Jacob dan Andrew. “Kalian berdua, maafkanlah aku,” tangan Raja memegang pundak kedua pemuda itu. “Mulai hari ini, semua pengobatan dan biaya obat untuk ibumu, akan ditanggung oleh kerajaan,” ujarnya kepada Andrew. “Peraturan ini jug aberlaku bagi semua rakyatku yang tercinta.”

Rakyat bersorak-sorai gembira.

Pencurian di Desa Bronsa - by Irena-

COKA SI KELINCI

Coka si kelinci coklat tampak melompat tanpa tujuan. Dia menendang-nendang batu, tanah, rating pohon, atau apa saja yang dia temukan di tanah. Tampaknya dia sedang kesal.
Pika si burung parkit yang kebetulan hinggap di sebuah pohon, melongokkan kepalanya untuk melihat Coka.
Ada apa Coka?” tanyanya. “Kenapa kau?”
“Aku kessssaaaalllll!!!!!” Coka berteriak kencang. “Aku sedang ingin santai-santai saja di liangku, namun tiba-tiba Pak Tupai masuk begitu saja ke dalam liangku. Dia membawa kedelapan anaknya yang nakal-nakal. Mereka seenaknya saja mengacak-acak liangku.”
Coka kembali menendang sebuah batu.
“Aku marah dan kuusir Pak Tupai karena menggangguku, tapi dia hanya tertawa terbahak-bahak. Dia dan semua binatang menganggapku binatang yang lucu, imut-imut, jinak… Mereka tidak takut dan menaruh hormat kepadaku. Aku tidak mau seperti itu!!!! Aku ingin jadi binatang buas!!!!! Mereka tidak akan berani berbuat seperti itu kepada binatang buas!!!”
Pika melongo heran. Baru kali ini dia mendengar ada kelinci yang ingin menjadi binatang buas. Baginya pikiran itu aneh.
“Ketika aku keluar dari liangku dan berjalan-jalan, segerombolan berang-berang menertawaiku dan mencubiti pipiku. Dan hal itu sudah sering terjadi. Kalau aku marah, mereka malah tertawa terbahak-bahak dan menganggap tingkahku lucu.”
“Aah… seandainya aku terlahir sebagai binatang buas, tentu tidak akan begini jadinya…” Coka menunduk putus asa.
Pika terbang rendah dan hinggap di akar pohon yang tumbuh di atas tanah. Melihat sahabatnya sedang gundah, Pika ingin menolong.
“Sepertinya aku tahu siapa yang dapat membantumu…” kata Pika.
Coka mengangkat wajahnya. “Cepat beritahu aku!!!” ujarnya dengan riang.
“Pak Keno si burung hantu, mungkin dia dapat membantumu…Dia adalah burung hantu yang bijaksana.”
“Tunggu apa lagi? Tunjukkan tempatnya padaku!!!”
Pika pun membawa Coka menemui Pak Keno.
Ada yang bisa saya bantu?” tanya Pak Keno sambil mempersilahkan Coka dan Pika duduk.
Coka segera bercerita. Dia menceritakan kekesalannya karena tidak dihormati oleh binatang-binatang lain dan kekesalannya terhadap tingkah laku binatang lain yang seenaknya saja masuk dan mengacak-acak liangnya. Dan juga tingkah laku binatang lain yang menertawai dan mencubiti pipinya setiap dia lewat.
“Itu semua membuatku kesal Pak Keno!!!” serunya mengakhiri ceritanya.
“Lalu apa yang kau inginkan sekarang?” tanyanya pelan.
“Aku ingin menjadi binatang buas!” sahut Coka cepat.
Dahi Pak Keno mengerut bingung, “Kenapa kau ingin menjadi binatang buas?”
“Binatang buas tidak akan diperlakukan seenaknya oleh binatang lain. Semua binatang menghormati, bahkan takut terhadap binatang buas!!!”
“Aku sudah mengasah gigiku…” Coka membuka lebar-lebar mulutnya agar Pak Keno, juga Pika, dapat melihat giginya. Pika memperhatikan gigi Coka. Memang gigi itu kini tajam seperti pisau! “Agar gigiku setajam gigi buaya, harimau, dan singa…”
“Aku juga berhenti makan wortel dan berburu binatang untuk kumakan. Seperti binatang buas…”
“Dan?” tanya Pak Keno.
Coka menggeleng, “Aku tidak berhasil berburu. Seperti yang aku katakan, tidak ada binatang yang takut kepadaku.”
“Apa yang harus kulakukan?” tanya Coka dengan wajah putus asa.
“Anggapanmu bahwa binatang buas ditakuti oleh binatang-binatang lain memang benar, tapi apakah mereka bahagia dengan keadaan mereka yang seperti itu?”
Coka menggelengkan kepalanya kuat-kuat, “Aku tidak mau tahu!!! Aku ingin menjadi binatang buas!!!”
Pak Keno menghela napasnya, “Baiklah. Aku hanya punya satu nasehat untukmu. Ikutilah binatang buas. Perhatikan segala tingkah laku binatang buas. Belajarlah dari mereka.”
Dalam perjalanan pulang, Coka dan Pika bertemu dengan seekor beruang besar. Tubuhnya besar sekali. Tangannya besar dengan kuku-kuku setajam pisau. Ketika dia menggeram, tampak gigi-gigi yang kuat dan tajam.
“Aku akan mengikuti dia!!!” seru Coka sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
Dia berdiri dan berjalan mengendap-endap di belakang si beruang besar. Pika terbang rendah mengikuti Coka. Sepanjang hari, Coka dan Pika mengikuti si beruang besar. Selama itu, Coka mempelajari semua tindak-tanduknya. Coka memperhatikan bagaimana dia menggeram, melompat, mencakar, menerkam, menggigit. Setiap kali si beruang besar lewat, semua binatang menyingkir ketakutan.
Coka senang. Dia mulai merasa bahwa dia telah menjadi binatang buas yang sesungguhnya. Pika, sebaliknya, tidak terlalu suka perjalanan ini. Dia tidak suka melihat teman-temannya menyingkir ketika dia lewat. Hanya saja, dia merasa kasihan melihat Coka dan ingin menemaninya.
Ketika malam tiba, Coka dan Pika tidur dekat si beruang besar. Baru saja Coka hendak memejamkan matanya, dia mendengar isak tangis. Dia terbangun dengan telinga tegak.
Ada apa, Coka?” gumam Pika tidak jelas.
“Aku mendengar suara tangisan.” Coka mengangguk-angguk. “Siapa gerangan yang sedang menangis?”
Pika mempertajam pendengarannya. Benar, ada suara tangisan.
Coka dan Pika mendekati si beruang besar dan suara isak tangis itu bertambah jelas. Ternyata si beruang besar yang sedang menangis. Tubuhnya turun-naik seiring dengan isakan tangisnya.
“Hhhaa… hallo…” Coka dan Pika memberanikan diri untuk menyapa si beruang besar.
Si beruang besar menoleh. Dia menyeka air matanya. “Hallo…” balasnya sedih.
“Mengapa kau menangis?” tanya Coka.
“Tidak ada binatang yang mau menjadi temanku. Semuanya takut dan menyingkir bila aku lewat. Padahal aku sangat ingin bermain bersama mereka…”
Coka terkejut. Ternyata si beruang besar malah tidak mau ditakuti oleh binatang lain!
“Ta… tapi, bukankah itu tandanya mereka takut kepada binatang buas sepertimu? Tandanya mereka menghormati dan menyeganimu?” tanyanya.
“Untuk apa ditakuti, disegani, dan dihormati?!?!?! Aku kesepian!!! Aku ingin punya banyak teman!!!”
Pika dan Coka terdiam.
“Kupikir dengan menjadi binatang buas, semua binatang akan menghormatiku. Mereka tidak akan berani seenaknya kepadaku.” ujar Coka pelan
“Percayalah… tidak enak rasanya ditakuti oleh binatang lain. Aku lebih suka punya banyak teman daripada ditakuti binatang-binatang lain.”
Si beruang besar kembali menangis tersedu-sedu.
“Kami mau menjadi temanmu.” ujar Pika. Dia terbang dan hinggap di bahu si beruang besar.
“Sungguh????” tanya si beruang besar dengan mata berbinar.
“Ya… kami mau menjadi temanmu.” ujar Coka. “Kami akan selalu menemanimu.”
Sejak saat itu, Coka, Pika, dan si beruang besar berteman baik. Coka dan Pika mengajari si beruang besar makan madu dan dia berhenti berburu. Binatang-binatang lain pun tidak takut lagi kepada si beruang besar, sebaliknya, mereka jadi menyukai si beruang besar.
Bagaimana dengan Coka? Apakah dia masing ingin menjadi kelinci buas? Tidak. Dia kemudian sadar kalau ternyata lebih baik disukai semua binatang daripada ditakut dan kesepian.