Ada kesalahan di dalam gadget ini

Senin, 05 Desember 2011

Singin n Dancin with Santa Clara Choir

Aku sudah aktif di Santa Clara Choir sudah lama sekali. Dulu, mama ingin aku menjadi pemain musik di gereja dan memotivasiku untuk mengikutiku paduan suara gereja ini. Sejak kurang lebih kelas 5SD, aku aktif di paduan suara ini. Lalu, aku sempat vakum karena kesibukan sekolah dan pergantian pengurus di paduan suara itu sendiri.

Tahun 1999, aku diminta untuk aktif lagi di paduan suara ini. Tadinya, aku sedikit terpaksa mengikuti paduan suara ini. Menurutku, paduan suara ini sudah tidak asyik lagi, tapi karena memang diminta, aku pun menyanggupi.

Siapa yang sangka, ternyata pergantian pengurus di Santa Clara Choir memang membawa angin yang sungguh segar. Dari paduan suara yang biasa-biasa saja, Santa Clara Choir menjelma menjadi paduan suara yang luar biasa. Thanks to Cayadi Budidarma, pelatih, dirigen, sekaligus adik iparku, yang memberikan sumbangsih yang tidak main-main pada paduan suara ini. Berkat tangan dinginnya dan berkat kerja keras kita semua (anggota paduan suara dan pemusik), Santa Clara Choir menjadi salah satu paduan suara yang eksis. Beberapa event telah kita lalui bersama. Di saat paduan suara  lain sudah cukup puas dapat melayani dalam misa mingguan dan sesekali misa wedding, Santa Clara Choir terus mencari event-event yang mengasah skill para anggotanya. Beberapa kali kita mengadakan in-house concert, tampil bersama sesama paduan suara lain dari gereja dan bahkan pernah mengundang Jakarta Children and Youth Choir sebagai bintang tamu. Kita juga pernah tampil di Hotel Mulia pada acara malam amal tahun 2006.

Sejak kelahiran Oscar, aku sempat vakum beberapa saat dari Santa Clara Choir. Tapi, belakangan ini, kau aktif kembali dengan energi yang luar biasa. Natal tahun ini, teman-teman mendaftarkan Santa Clara Choir dalam acara 'Breaking Muri Record' di Mal Ciputra, terus juga ada lomba Choir Competition di Central Park Mall. Acara yang pertama sangat-sangat menguras energi. Bayangin aja, kita harus tampil selama satu jam (yang dengan pertimbangan tertentu dari pihak panitia, dipecah menjadi tampil setengah jam, istirahat setengah jam, kemudian tampil lagi setengah jam). Jeda antar lagu juga diperkirakan hanya berkisar 1-2 menit saja. Susah, memang, tapi semuanya ada kemungkinan. Pokoknya, satu bulan lebih ini, Santa Clara Choir berlatih habis-habisan untuk mempersiapkan acara ini. Bahkan, generasi cilik dari Santa Clara Choir (baca: anak-anak dari para anggota Santa Clara Choir) juga ikut merasakan lelahnya sesi latihan yang seringkali baru berakhir pada pukul 10.30 pm. Salut deh untuk kerja keras Santa Clara Choir.

Tanggal 10 ini, semua jerih payah akan terbayar sudah. Aku yakin, latihan dan pengorbanan yang telah kita lakukan selama ini tidak akan sia-sia. You rock, Santa Clara Choir!!! I'm so proud of you!!!



Benar-benar sayang banget sama Santa Clara Choir. Bahkan salah seorang rekan kerjaku menyadari sekali betapa aku sayang dengan Santa Clara Choir. Menurutnya, aku bersemangat sekali saat bercerita tentang Santa Clara Choir. Hmmm... suatu saat nanti, aku pasti akan menulis novel tentang Santa Clara Choir yang tercinta ini.


 

Rabu, 23 November 2011

Rumput tetangga belum tentu lebih hijau

Beberapa hari yang lalu, dapet curhatan dari teman-teman. Kaget banget karena kehidupan teman-teman yang kupikir baik-baik saja, bahkan cenderung berkecukupan, ternyata punya banyak masalah!!! Pdahak, kukira, cuma rumah tangga-ku saja yang punya banyak masalah. Pepatah yang berbunyi : 'Rumput tetangga lebih hijau daripada rumput sendiri' sepertinya harus di-update lagi. Mungkin jadi 'Rumput tetangga, kelihatannya sih lebih hijau, padahal nggak gitu juga deh...

Rumah tanggaku sendiri ya gak luput juga dari masalah. Dibilang kecil, tapi kadang bikin aku dan suamiku gak bisa tidur nyenyak juga. Tapi kalau dibilang besar, kok ternyata ada juga keluarga yang masalahnya jauh lebih besar daripada masalah keluargaku.

Dua hari ini, aku jadi banyak merenung. Yah... Intinya manusia gak luput dari masalah. Sepertinya malah, masalah yang dihadapi manusia justru malah me-manusia-kan manusia itu sendiri. Aku sih have faith kalau Tuhan menciptakan setiap manusia secara unik, lengkap dengan keunikan masalahnya masing-masing. Walau begitu, Tuhan yang maha pengasih itu gak akan nmembiarkan kita berjuang sendirian. Tuhan pasti sudah membekali setiap ciptaannya dengan senjata-senjata unik selalu siap dipakai setiap masalah ieng-iseng say hello.

Untuk teman-teman semua, mungkin cerita ini bisa menguatkan. Aku suka banget cerita ini. Aku baca cerita ini di sebuah majalah dinding komunitas Budha waktu nganterin papaku sembahyang ke vihara. Aku juga pernah pakai cerita ini untuk konseling salah satu orangtua klienku. Semoga teman-teman juga dapat pencerahan dari cerita ini.

Orang-orang Jepang terkenal karena kegemaran mereka makan ikan laut yang segar. Para nelayan Jepang, bisa berlayar berbulan-bulan lamanya untuk mendapatkan ikan-ikan segar di tengah laut. Mereka membuat sebuah bak penampungan besar di dalam kapal laut untuk menampung ikan-ikan hasil tangkapan mereka itu. Berbulan-bulan lamanya, ikan-ikan itu berenang dengan tentram di dalam bak penampungan. Ketika kapal berlabuh, baru ikan segar tersebut dijual di pasar. Sayangnya, para pembeli kurang suka dengan rasa ikan tangkapan ini. Menurut mereka, ikan tangkapan kali ini rasanya kurang gurih. Para nelayan kemudian mencari cara agar dapat membuat ikan hasil tangkapan itu tetap segar dan gurih sesampainya di darat. Mereka kemudian menaruh seekor bayi hiu di dalam bak penampungan. Sekarang, ikan-ikan tangkapan harus mempertahankan hidup mereka dari serangan si bayi hiu. Setiap hari mereka harus berjuang melawan si bayi hiu. Hasil tangkapan memang sedikit berkurang, tapi para pembeli mengatakan bahwa ikan-ikan itu sekarang rasanya sangat gurih dan enak!

Just a tought...

Ora et labora - Berdoa dan bekerja/berusaha.

Jumat, 11 November 2011

Lain dulu lain sekarang

Dulu
Kalau nyebrang, pasti pacarku memilih berada di arah datangnya kendaraan.
Kalau jalan, pasti pacarku membiarkanku berjalan di sisi dalam.
Kalau ada event tertentu, pacarku pasti memberikan bunga mawar, bunga kesukaanku.
Kalau jalan bareng, pasti pacarku menggandeng tanganku.

Sekarang
Kalau nyebrang, mantan pacarku yang sekarang udah jadi suami gak peduli kalau aku berada di arah datangnya kendaraan.
Kalau jalan, suamiku gak peduli kalau aku berjalan di sisi luar.
Waktu kemarin ke Lembang, ditawarin mawar yang cantik banget sama penjual kembang, suamiku menggeleng. Pas aku minta dibeliin, dia bilang, "Buat apaan???"
Kalau jalan bareng, suamiku gandeng Oscar atau main kejar-kejaran sama Oscar *tepok jidat berulang-ulang

Hhhhh....
Memang semuanya berubah sejak sudah menikah. Tapi aku yakin, satu hal yang tidak pernah berubah. C-I-N-T-A


Setiap kali suami-ku pulang larut malam karena harus menemui klien, saat itulah aku merasakan cintanya...
Setiap kali suami-ku dengan sabar mendengarkan semua ide-ide untuk naskah baruku, walau gak pernah sekali pun membaca novel2ku, saat itulah aku merasakan cintanya...
Setiap kali suami-ku mempromosikan aku sebagai penulis novel, saat itulah aku merasakan cintanya...
Setiap kali suami-ku memesan novel2ku dalam jumlah banyak dan membagi2kannya untuk semua kliennya, saat itulah aku merasaka cintanya...
Setiap kali suami-ku mengurus Oscar dan membiarkanku menonton film favorit-ku di TV, saat itulah aku merasakan cintanya....
Setiap kali suami-ku dengan sabar menungguku di depan pasar saat aku belanja, saat itulah aku merasakan cintanya...
Setiap kali suami-ku menemaniku menonton infotainment (walau sambil mendumel, 'Ngapain sih nonton beginian), saat itulah aku merasakan cintanya....
Setiap kali suami-ku menemaniku menonton DVD 'Sex and The City' sambil minta dijelaskan apa yang sebenernya terjadi dalam film itu, saat itulah aku merasakan cintanya...
Setiap kali suami-ku berbisik kepada Oscar, "Mama seksi yaa..", saat itulah aku merasakan cintanya...

Cinta bukan hanya mawar
Cinta bukan hanya gandengan mesra
Ccinta bukan hanya berjalan di sisi arah datang kendaraan.

Cinta adalah dukungan
Cinta adalah toleransi
Cinta adalah pujian
Cinta adalah kebersamaan
Cinta adalah pengorbanan

For those all, I love you, Ronal Octavianus, now and then, forever...

Sabtu, 29 Oktober 2011

Our Road of Love 291011




Juli 1997
“Liat nih, ini foto mantan Ketua Osis yang baru saja lulus.” pacarku menyodorkan yearbook-nya. Aku mengernyit memandang sosok cowok berwajah jenaka itu. Terlihat seperti bukan tipe-ku. Mataku beralih pada kata kenangan akan sekolah yang dituliskannya.

‘Satu tahun jadi ketua OSIS cukup membuat gue tau sisi gelap sekolah ini, umpamanya kalau malam …’

Iihhhh… kata kenangan yang super duper norak.

Desember 1998
Setelah putus dari pacarku selama hampir satu tahun, aku ketemu lagi sama mantan Ketua Osis dengan kata kenangan yang super duper norak itu. Hei… dia kelihatan berbeda sekarang.

20 Juni 1999
Aku dan si mantan Ketua Osis dengan kata kenangan yang super duper norak itu semakin dekat dan dekat. Siapa sangka, orangnya ternyata sangat menyenangkan. Lucu, cerdas, dan selalu bikin kangen. Hari ini, dia menanyakan kesediaanku untuk menjadi pacarnya. Well, aku masih butuh waktu untuk memulihkan hati-ku yang sakit berat selepas diputuskan pacarku yang pertama. Aku minta dia untuk menunggu…

20 Juni 2000   
Si mantan Ketua Osis benar-benar menepati janjinya. Satu tahun kemudian, dia kembali menanyakan kesediaanku untuk menjadi pacarnya. Aku tidak menolak lagi. He’s the one!

29 Oktober 2006
Aku dan si mantan Ketua Osis berjanji untuk sehidup semati. Saling menyayangi, saling menjaga, saling men­-support selama-lamanya.

29 Oktober 2011
Hari ini anniversary kami yang ke-lima. Happy anniversary, Sayang. Thanks for lightin up my life. Love you more than before.

Kamis, 27 Oktober 2011

Kalung Hati

Waktu kecil dulu, aku sempat punya romantic dream kalo soul mate ku nanti adalah cowok yang memberiku seuntai kalung hati. Yaahhh... Ada pengalaman di masa kecil yang membuatku punya dream seperti itu. Singkat kata, pacarku yang pertama tidak memberikan kalung hati kepadaku dan kita putus setelah jalan kurang lebih satu tahun.

Pacarku yang kedua, Ronal Octavianus (yang hari ini berulang tahun. Happy birthday, Yang), menghadiahkan kalung hati kepadaku saat ulang tahunke-17. Well, mantra kalung hati itu berlanjut karena kami sekarang telah menjadi suami-istri. Kalung itu selalu aku pakai, tidak pernah lepas dari leherku, kecuali saat harus naik bus umum atau kereta umum. Kebetulan, aksesoris yang paling aku suka itu kalung. Seksi aja rasanya melihat gadis dengan kilatan kalung di lehernya.

Pagi ini, semua berjalan normal. Yah... Tampak normal. Aku anter Oscar ke sekolah, pulang untuk masak dan kemudian menjemput Oscar ke sekolah. Aku berjalan pulan sambil bergandengan tangan dengan Oscar. Tibat-tiba ada sebuah motor yang berjalan merapat dari arah belakang. Aku baru terheran-heran kenapa motor ini berjalan begitu dekat, ketika tiba-tiba sepasang tangan menarik kalungku!!! Aku menjerit dan hanya bisa terpaku saja. Motor itu sudah berbelok dan penjambret kalungku itu sempat menoleh ke arahku. Tubuhku dingin dan seolah terpaku ke bumi. Saat merasakan kekosongan di leherku, aku menangis sejadi-jadinya. Kalung itu kalung kenanganku, kalung kesayanganku yang memiliki banyak nilai emosional yang tidak ternilai. Aku bahkan sempat berpikir untuk mewariskan kalung itu kepada Oscar atau anak perempuanku kelak. Air mataku mengalir tidak bisa henti, tapi aku juga tidak mungkin mengejar kedua penjambret itu. Yah...semuanya memang terjadi begitu cepat. Oscar bahkan tidak menyadari apa yang terjadi sampai melihat air mataku berlinang deras. Walau begitu, aku masih besyukur karena aku dan Oscar tidak sampai disakiti.

Farewell my kalung hati. Aku harap kamu baik-baik saja di mana pun kamu berada. Aku yakin kamu pasti dapat membuat bahagia siapa pun pemilikmu kelak. Hope we can reunite someday...



Salah satu foto kenangan dengan kalung hati-ku. Hiks...

Selasa, 25 Oktober 2011

Orang kaya...

Minggu malam, saat kami bertiga (aku, suamiku, dan Oscar) sudah berada di tempat tidur, kami bertiga terlibat pillow talk. Topiknya adalah tentang gerai jus baru yang buka di depan jalan rumah kami.

Aku : Jus yang di depan ramai juga ya. Pengin juga nih jualan jus.
Oscar : Iih... aneh, kok jualan jus sih??? (sambil tertawa terbahak-bahak. Tawa yang dibuat-buat        tentunya)
Suamiku : Kenapa aneh, Nak?
Oscar : Kita kan orang kaya, ngapain harus jualan jus. Aneh? (dengan kening berkerut-kerut)
Aku : Emang orang kaya itu apa sih?
Oscar : Orang kaya kan orang yang banyak duitnya. Kita kan banyak duit, berarti kita orang kaya.
Suamiku : Terus orang kaya itu harusnya ngapain dong?
Oscar : Ya diem-diem aja. Kan udah kaya.

Moral of the story: Eventough keluarga kita belum bisa dikategorikan sebagai 'keluarga kaya', tapi kita punya Oscar yang selalu mengajarkan kita untuk bersyukur di setiap kesempatan. Good job, Son...

Jumat, 14 Oktober 2011

Ama dan Oscar

"Ren, anakmu itu bikin mama pusing aja!" kata Mamaku suatu sore.
   "Memangnya kenapa, Ma?" tanyaku penasaran.
   Mama kemudian menceritakan kejadian yang terjadi saat aku sedang tidak di rumah. Saat itu, Oscar memasukkan kakinya ke kolong sofa. Mamaku melarang Oscar memasukkan kakinya. Maklum, Oscar rentan sekali terhadap gigitan nyamuk, sedangkan kolong sofa itu tempat yang paling oke bagi nyamuk untuk bersembunyi.

   Ama: Oscar, kakinya jangan masukkin ke kolong sofa. Banyak nyamuk tau! Nyamuknya hitam-hitam lagi. Tadi abis gigit orang Afrika, jadi nyamuknya ketularan hitam.
   Oscar: (dahi berkerut-kerut, mata melirik ke kanan atas - gayanya kalo lagi mikir serius) Ama ni aneh banget! Nyamuk di mana-mana ya warnanya hitam. Mana ada nyamuk yang putih???
   Ama: (speechless tapi gak mau kalah). Ada, kalau nyamuknya gigit orang Tionghoa pasti jadi putih.
   Oscar: (nyeletuk dengan tenang). Nggak ada nyamuk yang warnanya putih, Ama,
   Ama: (akhirnya mengalah)


Moral of the story: Jangan pernah bohongin anak kecil dengan cerita yang nggak masuk akal, terutama kalau anaknya itu punya word smart jauh di atas rata-rata XD

Minggu, 09 Oktober 2011

Belajar jam...

Oscar : (sambil melihat ke arah jam) Wah sudah jam 1 kurang 10 nih.
Iren : (Ikutan melihat jam juga dan terkejut) Bener loh... (Penasaran lalu mengambil papan tulis dan       
menggambar jam). Kalau ini jam berapa. nak? (menggambar jarum pendek di dekat satu dan jarum panjang di delapan)
Oscar : (dengan suara yang super duper yakin) Jam 1 kurang delapan.
Iren : (ketawa ngakak)

Rabu, 05 Oktober 2011

Patah Hati - flash fiction 061011


Cantik banget! gumamku sambil mengalihkan pandangan kepada gadis itu. Rambut panjangnya tergerai lemas di bahu. Kepalanya terangguk-angguk mengikuti melodi yang berasal dari alunan piano. Sesekali dia tersenyum lembut.
Aku mendesah pelan. Aku harus tahu nama gadis itu. Aku ingin misa*) cepat selesai, tapi pastor**) masih terus berkotbah dengan penuh semangat. Umat lain juga tampak mendengarkan dengan seksama. Apakah hanya aku saja yang tidak mendengarkan?
Gadis itu kembali mendentingkan pianonya. Tanpa sadar, aku turut bernyanyi. Biasanya aku paling anti menyanyi, tapi kali ini… rasanya berbeda.
Aah, akhirnya misa usai juga. Aku buru-buru ke luar. Sepertinya, aku umat pertama yang ke luar dari gereja. Mataku mencari ke sana ke mari. Nah, itu dia! Gadis itu berjalan ke luar dari pintu samping.
Aku ragu, tapi aku tidak mau kehilangan kesempatan ini. Kuberanikan diriku untuk menegurnya.
“Hhaai…” sapaku pelan.
“Hai.” balas gadis itu, ragu.
“Aku… boleh.. boleh kenalan?” tanyaku. Merutuki suaraku yang terdengar gagap. Semoga saja dia tidak ilfil dengan kegugupanku.
Mata indah gadis itu mengerjap. Pipinya merona merah. Aah, semakin cantik saja dia!
“Ehm…” gadis itu tampak bingung. Sungguh, dia semakin memesonaku.
“Rin.”
Gadis itu menoleh, aku juga menoleh. Seorang laki-laki tegap berjalan mantap ke arah gadis itu. Berhenti di sebelah gadis itu. Posisi berdirinya sedikit agak di depan gadis itu. Matanya menatap tajam ke arahku. Tahulah aku siapa laki-laki itu.
“Ini… kamu…?” mulut bodohku masih saja mengeluarkan pertanyaan tak berarti itu.
Gadis itu mengangguk pelan. Sorot matanya tampak meminta maaf.
 “Aku duluan ya.” ujarnya sambil melingkarkan tangannya di lengan laki-laki itu.
Aku mengangguk. Memaksa bibirku untuk membentuk seulas senyum lemah…

*) Misa: Kebaktian dalam agama Katholik
**) Pastur: Pemuka agama Katholik
Picture taken from : http://superlative1.files.wordpress.com/2007/12/broken_heart.jpg

Senin, 03 Oktober 2011

Putus - flashfiction 041011


Kamu dingin. Benar-benar dingin beberapa hari ini. Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi kamu tidak memedulikanku lagi.
Aku melihat motormu di parkiran sekolah, tapi kamu tidak sekali pun datang menemuiku. Tidak saat bel masuk belum berbunyi, tidak saat jam istirahat pertama, tidak saat jam istirahat kedua, tidak juga saat bel pulang sudah berbunyi. Tidak biasanya kamu seperti ini. Selama 6 bulan mengenalmu, kamu selalu menemuiku di waktu-waktu itu.
Aku mencarimu kemana-mana. Di depan kelasmu, di kantin, di perpustakan, di lapangan olahraga, tapi kamu tidak ada di manapun. Seolah kamu hilang ditelan bangunan sekolah kita ini. Teman-teman sekelasmu juga tidak mau memberitahu keberadaanmu.
“Mana Yo?” tanya seorang teman saat melihat aku pulang sendirian. Pasti teman kita itu heran, karena selama 6 bulan ini, kita berdua selalu pulang bersama.
Aku hanya menggeleng pelan. Kupaksakan seulas senyum pahit di wajahku. Semoga itu cukup untuk menjawab pertanyaannya tadi.
Aku melewati parkiran motor dan kulihat motormu masih setia menunggumu di sana. Kamu belum pulang. Kamu berada seharian di sekolah, tapi kamu tidak memedulikanku!
Aku berlari ke pintu gerbang. Berusaha sekuat tenaga menahan air mata yang siap tumpah. Lalu, kulihat kamu berdiri di sudut aula sekolah. Kamu membelakangiku, berdiri menghadap seorang gadis yang kukenali sebagai adik kelas kita. Kalian tidak menyadari kehadiranku, jadi perlahan aku mendekat.
“Aku mau kamu jadi pacarku.”
Kudengar kau berkata seperti itu kepada adik kelas kita yang manis.
“Tapi… Kak Yo kan masih punya pacar…” bisik adik kelas itu ragu.
“Memang,” kau tertawa kecil. “Sekarang masih, tapi sebentar lagi akan kuputuskan dia.”
Aku terkesiap mendengar nada suaramu. Begitu dingin! Begitu acuh!
Putus! Sakit sekali hatiku. Perih sekali hatiku. Tanganku terangkat memegangi dadaku, tempat di mana hatiku berada. Berharap dengan demikian dapat mengurangi rasa sakitnya. Tanganku terasa basah dan hangat. Kutatap jemariku. Merah. Amis. Mataku beralih ke dadaku.
Ada belati tertancap di sana…

Rabu, 21 September 2011

Guardian Angels are around us...

Belakangan ini lagi banyak pikiran negatif berlari-larian di benak-ku. Sampai-sampai sempat kepikiran kalau Tuhan itu sebenarnya lagi sibuk sama orang lain, jadi nggak sempat ngeliatin aku dan keluargaku. Tapi, ada dua kejadian penting yang membuatku jadi ngeh lagi kalau Tuhan benar-benar memerhatikan aku dan keluargaku dengan mata-Nya yang indah.

Kejadian pertama itu terjadi hari Jumat, 16 September 2011 kemarin. Suamiku, Ronal Octavianus, baru saja pulang latihan koor sekitar jam 10.30. Aku sendiri sudah ketiduran dan nggak sadar kalau dia sudah pulang. Saat itu baru mulai hujan rintik-rintik. Suamiku sebenarnya sudah lelah, tapi seolah ada yang bisikin supaya dia jangan tidur dulu. Nah, dia jadi menyibukkan diri dengan online dan ngecek2 email2 yang masuk. Jam 01.30 pagi, hujan menjadi semakin deras. Saat itu suamiku merasa haus, tapi agak malas untuk turun ke bawah dan ambil minuman. Entah bagaimana, suamiku seperti merasakan ada yang membisikinya untuk turun. Begitu dia turun, ternyata air hujan masuk dari sela-sela dinding rumah. Air hujannya baru masuk sedikit, tapi dari aliran yang lumayan deras itu sepertinya sebentar lagi rumah ini akan kebanjiran! Apalagi ada beberapa barang yang kita taruh begitu saja di lantai (di antaranya goody bags ulang tahun Oscar yang mau dipakai hari Senin-nya). Buru-buru suamiku membersihkan rembesan air yang membanjiri rumah. Setelah di-cek, ternyata talang air di depan rumah mampat kaerna tertutup oleh daun-daun kering. Suami-ku pun langsung membersihkan talang air dan air hujan bisa mengalir dengan lancar. Puji Tuhan!!! Rumah ini tidak jadi kebanjiran! Suami-ku sih bilang kalau ini sebuah keberuntungan, tapi aku yakin banget kalau suara-suara yang didengar suamiku itu adalah suara dari guardian angel yang dikirim Tuhan untuk melindungi keluargaku dan rumah ini.

Kejadian ke dua terjadi hari Selasa, 20 September 2011 kemarin. Pagi harinya, aku membeli sekotak susu coklat untuk Oscar. Oscar sudah sering mengonsumsi susu coklat itu. Aku sudah cek expired date-nya dan tertera dengan jelas June 2012. Sore harinya, aku memberikan susu itu untuk Oscar. Seperti biasa, aku memasangkan sedotannya dan langsung memberikan kepada Oscar. Oscar berusaha menghisap beberapa kali lewat sedotan itu, tapi entah kenapa susunya tidak bisa terhisap. Ada sekitar tiga kali Oscar coba menghisap. Aku yang memerhatikan, berpikir bahwa ada masalah dengan sedotannya (pernah suatu kali Oscar tidak bisa menghisap susu melalui sedotan karena ternyata ada sobekan kecil pada badan sedotan). Oscar mengembalikan susunya kepadaku dan berkata, "Ma, kok nggak bisa sih?!" Aku langsung mencoba menghisap sedotan itu. Kali ini, susu langsung dapat terhisap, namun astaga!!! Sususnya sudah basi dan asam!!! Rasanya sungguh-sungguh tidak enak. Aku buru-buru membersihkan mulut dan mengecek isi susu. Ternyata benar, susu itu sudah basi. Ada gumpalan2 putih dan coklat yang tergenang bersama-sama cairan susu yang sudah asam dan berbau. Iihhh... aku saja masih merasa mual kalau mengingat2 rasa susu tersebut. Tapi yang aku syukurkan dari kejadian ini adalah, Oscar sama sekali tidak meminum susu basi itu!!! Padahal, tidak ada yang salah dengan sedotan yang dia gunakan. Aku juga mencoba mengecek sedotan itu lagi, dan sedotannya ternyata tidak apa-apa. Sepertinya, guardian angel Oscar sengaja menjepit sedotan itu agar Oscar tidak terminum susu basi itu...

Thanks GOD. Ternyata Engkau masih memerhatikan keluargaku dengan mata-Mu yang indah itu. Thanks Guardian Angel karena selalu melindungiku keluargaku.

Sekarang aku lebih tenang lagi, karena aku tahu Tuhan tidak pernah terlalu sibuk untuk memerhatikan keluargaku :)

Senin, 19 September 2011

Happy Birthday, My Dear Oscar...



19 September 2011

Happy birthday, My Dear Oscar. Hari ini ultah anakku yang keempat. Pangeran kecilku. Matahariku. Cintaku dan sayangku. Nggak kerasa banget, tau2 udah 4 tahun aja. Perasaan baru kemarin itu dengerin dia babbling bababababa... tau-tau sekarang ceritanya udah jago banget. Perasaan baru kemarin mandiin dia pake ember mandi bayi, tau-tau sekarang udah jago mandi sendiri. Perasaan baru kemarin nyuapin dia makan pake bubur lembut, tau-tau sekarang udah jago makan fried chicken KFC sendiri. Hehehe....

Ultah kali ini dirayain di sekolah. Pertama kalinya nih. Dia excited banget waktu kita semua (aku, Ronal, Mamaku, dan Mama mertua) datang ke sekolahnya. Dia juga excited banget sama kue ultahnya yang kita pesan dengan hiasan sesuai dengan kesukaannya: Cars. Perayaan di sekolah berjalan lancar. Oscar juga seneng banget dapat hadiah (apa lagi kalau bukan) mobil2 dari film Cars 2: Fin McMissile, Holly Shiftwell, Francesco Bernoulli, sama mobil RC gede Lightning McQueen. Ada beberapa hadiah lain lagi, tapi yang paling dia suka ya tokoh2 Cars itu.

Pangeranku sudah empat tahun ^_^ Bangga banget sama semua pencapaian dia selama ini. Walaupun semuanya dicapai tidak dengan kemudahan, tapi semuanya itu berharga banget. Aku sayang banget sama Oscar Asairo Hogan-ku. Nggak ada sesuatu pun di dunia ini yang bisa menggantikan rasa sayangku kepadanya. Rasa sayang ini juga (di samping hal-hal lainnya) yang membuatku menunda2 keinginan untuk punya anak lagi. Nggak tau gimana rasanya kalau harus membagi rasa sayangku ini ke anak lain. Hehehe...

Well, hari ini Oscar senang. Aku juga senang karena bisa bikin dia senang banget. Aku juga berterima kasih sama dia karena dia mengajarkan banyaaakkkk hal kepadaku. Aku jadi lebih sabar, lebih cepat dalam melakukan segala sesuatu, lebih jago ngedongeng, dan lebih mau masak, semuanya karena dan utnuk Oscar tersayang.

Love you so much, Anakku :  Oscar Asairo Hogan :-*

Selasa, 13 September 2011

Novel ketiga

Baru dapat email dari editor-ku, Mbak Vera. Kata beliau, novel ketiga/ teenlit kedua-ku 'Online Addicted!' sudah naik cetak. Kira2 3 minggu lagi, novel itu sudah akan beredar di toko-toko buku. Yippiiieeee....

Akhirnya penantian selama ini nggak sia2. Dear readers, nantikan ya launching 'Online Addicted!'ku.

Love you all...

Kamis, 08 September 2011

Mati Aku - flash fiction

     Aku terbangun karena suara riuh di sekitarku. Astaga! Apa yang terjadi?! Tubuh teman-temanku bergelimpangan di sekitarku. Darah yang amis tampak tergenang di sekitar mereka
      "Teman-teman..." Panggilku dengan lirih.
     Mereka tidak menjawab. Mereka sudah mati!
     Dengan ngeri kuedarkan pandangan ke sekelilingku. Beberapa tubuh tanpa kepala malah sudah dikuliti dengan sadisnya. Siapa yang melakukan ini semua?! Mengapa teman-temanku dibantai dengan sedemikian sadisnya?!
      Kudengar teriakan ribut di sudut ruangan. Beberapa temanku yang masih hidup tampak merapatkan diri di sana.
      "Ada apa ini?"
      Belum sempat mereka menjawab, terdengar teriakan kencang. Aku berpaling dan mendapati salah satu temanku bersimbah darah. Luka menganga lebar dari lehernya.
      Aku gemetar ketakuan menyaksikan pemandangan mengerikan itu. Tubuh temanku terkulai dengan lemas. Aku berteriak-teriak ketakutan. Suaraku keluar dalam lengkingan pilu yang menyayat hati.
     "Yang mana, Bu?" Kudengar suara lain. Suara yang berasal dari pita suara yang berbeda dengan pita suara milikku.
     "Yang itu." Suara ini lebih tinggi. Kulihat pemilik suara tinggi itu dan tercekat saat menyadari jemarinya menunjuk ke arahku.
      Aku menjerit sekuat tenaga saat kurasakan tangan pemilik suara pertama mencengkram kakiku.    Teman-teman yang meringkuk di pojokan memandangku dengan tatapan sedih. Sepertinya mereka menyadari kalau ini adalah kebersamaan kami yang terakhir.
      "Selamat tinggal, Teman.." Bisik salah satu dari mereka.
      "Tolong buang bulu dan kulitnya. Lalu potong menjadi delapan bagian."
      Aku mendengar suara yang lebih tinggi berkata-kata. Aku sempat menangkap kelebatan sinar pisau saat benda jahanam itu diambil. Aku tahu sebentar lagi aku akan dibantai habis-habisan.
      Srrrttt...
      Pisau jahanam itu digoreskan ke pangkal leherku. Aku menjerit sekuat tenaga, tapi yang keluar dari pita suaraku hanyalah jeritan yang lemah. Pandanganku mulai rabun saat aku mencoba untuk berteriak untuk yang terakhir kalinya.
      'Kaaoookkkk...'

Kamis, 25 Agustus 2011

Oscar on air di acara Dongeng Pagi FeMale Radio

Selama Oscar sekolah (dari tanggal 18 Juli kemarin), moment yang paling ditunggu2 adalah acara Dongeng Pagi di FeMale Radio. Kalo Oscar lagi ngadat, n males bangun pagi, biasanya aku akan bilang 'Ayo cepetan, nanti ketinggalan dongeng pagi-nya Paman Geri loh...' Biasanya berhasil, walau lebih banyak nggak berhasil juga hehehehe...

Anyway, dongeng pagi itu isinya ya dongeng, sesuai dengan judul acaranya. Jadi ada pembacaan dongeng yang dilakukan oleh penyiar radio FeMale: Paman Geri dan Bubu Mini. Setelah dongeng, akan ada pertanyaan seputar dongeng. Nah, di sini para pendengar diajak berpartisipasi untuk menjawab pertanyaan yang diberikan. Aku lumayan rajin jawab via SMS. Setiap hari, nama Oscar Asairo Hogan pasti akan disebut-sebut Paman Geri. Kadang juga ditambahkan informasi lain seperti: "Hari ini Oscar pakai seragam kotak2", atau "Hari ini ada pelajaran Komputer", atau juga "Kemarin Oscar habis nonton Kungfu Panda 2". Oscar akan sumringah begitu tau namanya disebut. Apalagi kalau Paman Geri membacakan tambahan2 informasi yang sebenarnya aku ketikkan via SMS. Dengan wajah bersinar-sinar, dia akan bertanya, "Kok Paman Geri tau ya???"

Nah, hari ini adalah hari yang spesial untuk pangeran kecilku. Tadi pagi sedikit riweh dan hampir saja Oscar terlambat mendengarkan dongeng pagi yang selalu ditunggu-tunggu itu. Ceritanya hari ini tentang seorang pangeran yang sering berkata-kata kasar. Pertanyaan yang diberikan adalah "Sebutkan kata-kata baik yang kamu tahu?" Kebetulan kemarin2 pernah diputar lagu tentang 'Terima kasih, Tolong, dan Maaf.' Aku langsung mengetikkan ketiga kata itu sambil nanya2 ke Oscar. Dia juga setuju kalau ketiga kata itu termasuk kata2 yang baik. Nggak berapa lama, hp-ku bunyi dan suara Paman Geri terdengar menyapa. Wah, surprise banget nih!!! Buru2 hp kusodorkan ke Oscar. Oscar juga kelihatan amazed banget karena ditelpon Paman Geri. Paman Geri menanyakan jawaban kuisnya dan Oscar bisa menjawab dengan lancar, sambil kupandu sedikit2. Paman Geri bilang kalau telponnya jangan ditutup dulu. Sambil deg2an dan berbisik supaya Oscar menjawab dengan suara lantang, aku, Ronal, dan Oscar nungguin panggilan dari Paman Geri.

Dan... Paman Geri pun menyapa Oscar. Dia nanyain sekolah Oscar dan nama lengkap Oscar (yang menurutnya keren itu hehehe...). Oscar bisa menjawab dengan lantang. Terus dia juga nanyain soal jawaban pertanyaan dan Oscar juga bisa menjawab dengan cukup oke, yah.. mengingat ini pengalaman pertama dia on air di radio :D

Oscar seneng banget. Mukanya secerah matahari siang hari!!! Thanks to Paman Geri n FeMale Radio yang bikin Oscar-ku seneng banget hari ini...

Senin, 22 Agustus 2011

Susahnya belajar menulis...

Oscar udah satu bulan lebih sekolah. Sudah mulai teratur ritmenya. Bangun pagi, kadang masih cranky. Biasa lah. Terus siang jadi cepet ngantuk. Jadi jam makan siang dimajuin n jam tidur siang juga jadi maju.

Mulai dua minggu terakhir ini, aku mulai ngajarin nulis. Tadinya sih baru bikin garis, gerak melingkar, garis miring, gitu-gitu aja. Tapi ternyata, di sekolah udah mulai diajarin nulis angka 1, 2, dan huruf i. Nah, waktu itu, dia panik duluan. Sempet nangis juga karena ngerasa belum bisa. Terus di rumah, aku ajarin. Waduh... ternyata belajar nulis bagi anak2 itu bener nggak gampang banget ya???? Baru merasakan sekarang ini. Jadi, waktu baru mau nulis angka 2 (angka 1 dia udah bisa), pas ngambil pensil aja keliatan dia udah panik gitu. Mungkin takut gak bisa kali ya? Terus aku semangatin terus. Baru dia mau buat goresan bulat. Itu aja aku perhatiin, ya ampun, tangannya gemetaran hebat!!! Wah, Nak, kamu benar-benar perlu usaha keras ya...

Sekarang sih udah mulai bagus goresannya. Walaupun angka 2 dan 3-nya masih berantakan, tapi it's oke lah. Untuk seumuran dia, menurutku udah bagus. Aku juga bilangin dia, gak perlu takut kalo belum bisa ngerjain tugas. Temen-temen lain juga sama2 masih belajar, jadi semuanya juga masih belum bisa. Sejak itu, sih Oscar lebih tenang kalo ke sekolah.


Fiiiuuuhhh... repot juga ya ternyata. Ini cuma belajar nulis aja. Belum belajar yang lain2nya. Eh, tapi berhitung sih udah lumayan. Oscar udah bisa menghitung benda/ gambar konkrit sampai 20. Bicara juga oke banget dia :D Semakin ke sini, pasti dia akan semakin bisa.

Cia you, Nak. Kamu pasti bisa! Mama pasti bantuin kamu!

Minggu, 21 Agustus 2011

The Bridesmaid's Story

Judul: The Bridesmaid's Story
Penulis: Irena Tjiunata
Terbitan: GPU, November 2010
Harga: Rp 46.000


Menjadi seorang bridesmaid sangat merepotkan!!! Harus siap membantu dalam semua persiapan pernikahan. Harus dapat memberi masukan yang berarti apabila diminta oleh si calon pengantin. Harus siap menerima curahan hati dari calon mempelai wanita yang tertekan. Dan semua itu harus dilakukan Kesya Artyadevi di sela-sela kesibukannya merancang perhiasan pesanan klien, melayani klien yang heboh dan gila perhiasan, serta mengikuti pameran perhiasan sampai taraf internasional.

Tapi itu belum seberapa!

Tambahkan kerepotan itu dengan:

  1. Cecilia Almira Saraswati, si calon pengantin wanita yang drama queen dan super sibuk.
  2. Finna Salsabila, si sepupu jauh calon pengantin wanita yang ribet dan selalu ikut campur dengan cara-caranya yang ajaib.
  3. Tante Jessica Lionel Andersen, si ibu mertua yang tidak menyukai si calon pengantin wanita dan tidak menginginkan pernikahan terjadi.
  4. Raden Ayu Sekar Ningrum, si mantan pacar, yang ingin merebut kembali calon pengantin laki-laki!!!

Semuanya itu membuat Kesya double repot!!!

Hmmm…. tapi tentu ada sesuatu yang dapat menghapus semua kerepotan yang dialami Kesya.

Apa ya???

Mungkin Marco Raphael Eagen, si bestman dengan senyum seksi dan menawan.