Ada kesalahan di dalam gadget ini

Sabtu, 29 Oktober 2011

Our Road of Love 291011




Juli 1997
“Liat nih, ini foto mantan Ketua Osis yang baru saja lulus.” pacarku menyodorkan yearbook-nya. Aku mengernyit memandang sosok cowok berwajah jenaka itu. Terlihat seperti bukan tipe-ku. Mataku beralih pada kata kenangan akan sekolah yang dituliskannya.

‘Satu tahun jadi ketua OSIS cukup membuat gue tau sisi gelap sekolah ini, umpamanya kalau malam …’

Iihhhh… kata kenangan yang super duper norak.

Desember 1998
Setelah putus dari pacarku selama hampir satu tahun, aku ketemu lagi sama mantan Ketua Osis dengan kata kenangan yang super duper norak itu. Hei… dia kelihatan berbeda sekarang.

20 Juni 1999
Aku dan si mantan Ketua Osis dengan kata kenangan yang super duper norak itu semakin dekat dan dekat. Siapa sangka, orangnya ternyata sangat menyenangkan. Lucu, cerdas, dan selalu bikin kangen. Hari ini, dia menanyakan kesediaanku untuk menjadi pacarnya. Well, aku masih butuh waktu untuk memulihkan hati-ku yang sakit berat selepas diputuskan pacarku yang pertama. Aku minta dia untuk menunggu…

20 Juni 2000   
Si mantan Ketua Osis benar-benar menepati janjinya. Satu tahun kemudian, dia kembali menanyakan kesediaanku untuk menjadi pacarnya. Aku tidak menolak lagi. He’s the one!

29 Oktober 2006
Aku dan si mantan Ketua Osis berjanji untuk sehidup semati. Saling menyayangi, saling menjaga, saling men­-support selama-lamanya.

29 Oktober 2011
Hari ini anniversary kami yang ke-lima. Happy anniversary, Sayang. Thanks for lightin up my life. Love you more than before.

Kamis, 27 Oktober 2011

Kalung Hati

Waktu kecil dulu, aku sempat punya romantic dream kalo soul mate ku nanti adalah cowok yang memberiku seuntai kalung hati. Yaahhh... Ada pengalaman di masa kecil yang membuatku punya dream seperti itu. Singkat kata, pacarku yang pertama tidak memberikan kalung hati kepadaku dan kita putus setelah jalan kurang lebih satu tahun.

Pacarku yang kedua, Ronal Octavianus (yang hari ini berulang tahun. Happy birthday, Yang), menghadiahkan kalung hati kepadaku saat ulang tahunke-17. Well, mantra kalung hati itu berlanjut karena kami sekarang telah menjadi suami-istri. Kalung itu selalu aku pakai, tidak pernah lepas dari leherku, kecuali saat harus naik bus umum atau kereta umum. Kebetulan, aksesoris yang paling aku suka itu kalung. Seksi aja rasanya melihat gadis dengan kilatan kalung di lehernya.

Pagi ini, semua berjalan normal. Yah... Tampak normal. Aku anter Oscar ke sekolah, pulang untuk masak dan kemudian menjemput Oscar ke sekolah. Aku berjalan pulan sambil bergandengan tangan dengan Oscar. Tibat-tiba ada sebuah motor yang berjalan merapat dari arah belakang. Aku baru terheran-heran kenapa motor ini berjalan begitu dekat, ketika tiba-tiba sepasang tangan menarik kalungku!!! Aku menjerit dan hanya bisa terpaku saja. Motor itu sudah berbelok dan penjambret kalungku itu sempat menoleh ke arahku. Tubuhku dingin dan seolah terpaku ke bumi. Saat merasakan kekosongan di leherku, aku menangis sejadi-jadinya. Kalung itu kalung kenanganku, kalung kesayanganku yang memiliki banyak nilai emosional yang tidak ternilai. Aku bahkan sempat berpikir untuk mewariskan kalung itu kepada Oscar atau anak perempuanku kelak. Air mataku mengalir tidak bisa henti, tapi aku juga tidak mungkin mengejar kedua penjambret itu. Yah...semuanya memang terjadi begitu cepat. Oscar bahkan tidak menyadari apa yang terjadi sampai melihat air mataku berlinang deras. Walau begitu, aku masih besyukur karena aku dan Oscar tidak sampai disakiti.

Farewell my kalung hati. Aku harap kamu baik-baik saja di mana pun kamu berada. Aku yakin kamu pasti dapat membuat bahagia siapa pun pemilikmu kelak. Hope we can reunite someday...



Salah satu foto kenangan dengan kalung hati-ku. Hiks...

Selasa, 25 Oktober 2011

Orang kaya...

Minggu malam, saat kami bertiga (aku, suamiku, dan Oscar) sudah berada di tempat tidur, kami bertiga terlibat pillow talk. Topiknya adalah tentang gerai jus baru yang buka di depan jalan rumah kami.

Aku : Jus yang di depan ramai juga ya. Pengin juga nih jualan jus.
Oscar : Iih... aneh, kok jualan jus sih??? (sambil tertawa terbahak-bahak. Tawa yang dibuat-buat        tentunya)
Suamiku : Kenapa aneh, Nak?
Oscar : Kita kan orang kaya, ngapain harus jualan jus. Aneh? (dengan kening berkerut-kerut)
Aku : Emang orang kaya itu apa sih?
Oscar : Orang kaya kan orang yang banyak duitnya. Kita kan banyak duit, berarti kita orang kaya.
Suamiku : Terus orang kaya itu harusnya ngapain dong?
Oscar : Ya diem-diem aja. Kan udah kaya.

Moral of the story: Eventough keluarga kita belum bisa dikategorikan sebagai 'keluarga kaya', tapi kita punya Oscar yang selalu mengajarkan kita untuk bersyukur di setiap kesempatan. Good job, Son...

Jumat, 14 Oktober 2011

Ama dan Oscar

"Ren, anakmu itu bikin mama pusing aja!" kata Mamaku suatu sore.
   "Memangnya kenapa, Ma?" tanyaku penasaran.
   Mama kemudian menceritakan kejadian yang terjadi saat aku sedang tidak di rumah. Saat itu, Oscar memasukkan kakinya ke kolong sofa. Mamaku melarang Oscar memasukkan kakinya. Maklum, Oscar rentan sekali terhadap gigitan nyamuk, sedangkan kolong sofa itu tempat yang paling oke bagi nyamuk untuk bersembunyi.

   Ama: Oscar, kakinya jangan masukkin ke kolong sofa. Banyak nyamuk tau! Nyamuknya hitam-hitam lagi. Tadi abis gigit orang Afrika, jadi nyamuknya ketularan hitam.
   Oscar: (dahi berkerut-kerut, mata melirik ke kanan atas - gayanya kalo lagi mikir serius) Ama ni aneh banget! Nyamuk di mana-mana ya warnanya hitam. Mana ada nyamuk yang putih???
   Ama: (speechless tapi gak mau kalah). Ada, kalau nyamuknya gigit orang Tionghoa pasti jadi putih.
   Oscar: (nyeletuk dengan tenang). Nggak ada nyamuk yang warnanya putih, Ama,
   Ama: (akhirnya mengalah)


Moral of the story: Jangan pernah bohongin anak kecil dengan cerita yang nggak masuk akal, terutama kalau anaknya itu punya word smart jauh di atas rata-rata XD

Minggu, 09 Oktober 2011

Belajar jam...

Oscar : (sambil melihat ke arah jam) Wah sudah jam 1 kurang 10 nih.
Iren : (Ikutan melihat jam juga dan terkejut) Bener loh... (Penasaran lalu mengambil papan tulis dan       
menggambar jam). Kalau ini jam berapa. nak? (menggambar jarum pendek di dekat satu dan jarum panjang di delapan)
Oscar : (dengan suara yang super duper yakin) Jam 1 kurang delapan.
Iren : (ketawa ngakak)

Rabu, 05 Oktober 2011

Patah Hati - flash fiction 061011


Cantik banget! gumamku sambil mengalihkan pandangan kepada gadis itu. Rambut panjangnya tergerai lemas di bahu. Kepalanya terangguk-angguk mengikuti melodi yang berasal dari alunan piano. Sesekali dia tersenyum lembut.
Aku mendesah pelan. Aku harus tahu nama gadis itu. Aku ingin misa*) cepat selesai, tapi pastor**) masih terus berkotbah dengan penuh semangat. Umat lain juga tampak mendengarkan dengan seksama. Apakah hanya aku saja yang tidak mendengarkan?
Gadis itu kembali mendentingkan pianonya. Tanpa sadar, aku turut bernyanyi. Biasanya aku paling anti menyanyi, tapi kali ini… rasanya berbeda.
Aah, akhirnya misa usai juga. Aku buru-buru ke luar. Sepertinya, aku umat pertama yang ke luar dari gereja. Mataku mencari ke sana ke mari. Nah, itu dia! Gadis itu berjalan ke luar dari pintu samping.
Aku ragu, tapi aku tidak mau kehilangan kesempatan ini. Kuberanikan diriku untuk menegurnya.
“Hhaai…” sapaku pelan.
“Hai.” balas gadis itu, ragu.
“Aku… boleh.. boleh kenalan?” tanyaku. Merutuki suaraku yang terdengar gagap. Semoga saja dia tidak ilfil dengan kegugupanku.
Mata indah gadis itu mengerjap. Pipinya merona merah. Aah, semakin cantik saja dia!
“Ehm…” gadis itu tampak bingung. Sungguh, dia semakin memesonaku.
“Rin.”
Gadis itu menoleh, aku juga menoleh. Seorang laki-laki tegap berjalan mantap ke arah gadis itu. Berhenti di sebelah gadis itu. Posisi berdirinya sedikit agak di depan gadis itu. Matanya menatap tajam ke arahku. Tahulah aku siapa laki-laki itu.
“Ini… kamu…?” mulut bodohku masih saja mengeluarkan pertanyaan tak berarti itu.
Gadis itu mengangguk pelan. Sorot matanya tampak meminta maaf.
 “Aku duluan ya.” ujarnya sambil melingkarkan tangannya di lengan laki-laki itu.
Aku mengangguk. Memaksa bibirku untuk membentuk seulas senyum lemah…

*) Misa: Kebaktian dalam agama Katholik
**) Pastur: Pemuka agama Katholik
Picture taken from : http://superlative1.files.wordpress.com/2007/12/broken_heart.jpg

Senin, 03 Oktober 2011

Putus - flashfiction 041011


Kamu dingin. Benar-benar dingin beberapa hari ini. Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi kamu tidak memedulikanku lagi.
Aku melihat motormu di parkiran sekolah, tapi kamu tidak sekali pun datang menemuiku. Tidak saat bel masuk belum berbunyi, tidak saat jam istirahat pertama, tidak saat jam istirahat kedua, tidak juga saat bel pulang sudah berbunyi. Tidak biasanya kamu seperti ini. Selama 6 bulan mengenalmu, kamu selalu menemuiku di waktu-waktu itu.
Aku mencarimu kemana-mana. Di depan kelasmu, di kantin, di perpustakan, di lapangan olahraga, tapi kamu tidak ada di manapun. Seolah kamu hilang ditelan bangunan sekolah kita ini. Teman-teman sekelasmu juga tidak mau memberitahu keberadaanmu.
“Mana Yo?” tanya seorang teman saat melihat aku pulang sendirian. Pasti teman kita itu heran, karena selama 6 bulan ini, kita berdua selalu pulang bersama.
Aku hanya menggeleng pelan. Kupaksakan seulas senyum pahit di wajahku. Semoga itu cukup untuk menjawab pertanyaannya tadi.
Aku melewati parkiran motor dan kulihat motormu masih setia menunggumu di sana. Kamu belum pulang. Kamu berada seharian di sekolah, tapi kamu tidak memedulikanku!
Aku berlari ke pintu gerbang. Berusaha sekuat tenaga menahan air mata yang siap tumpah. Lalu, kulihat kamu berdiri di sudut aula sekolah. Kamu membelakangiku, berdiri menghadap seorang gadis yang kukenali sebagai adik kelas kita. Kalian tidak menyadari kehadiranku, jadi perlahan aku mendekat.
“Aku mau kamu jadi pacarku.”
Kudengar kau berkata seperti itu kepada adik kelas kita yang manis.
“Tapi… Kak Yo kan masih punya pacar…” bisik adik kelas itu ragu.
“Memang,” kau tertawa kecil. “Sekarang masih, tapi sebentar lagi akan kuputuskan dia.”
Aku terkesiap mendengar nada suaramu. Begitu dingin! Begitu acuh!
Putus! Sakit sekali hatiku. Perih sekali hatiku. Tanganku terangkat memegangi dadaku, tempat di mana hatiku berada. Berharap dengan demikian dapat mengurangi rasa sakitnya. Tanganku terasa basah dan hangat. Kutatap jemariku. Merah. Amis. Mataku beralih ke dadaku.
Ada belati tertancap di sana…