Ada kesalahan di dalam gadget ini

Jumat, 15 Juni 2012


Cerpen ini saya tulis September 1995. Astaga! Saya baru 13tahun waktu itu! *tutup muka malu!
Yah... alur ceritanya sama sekali ngalor-ngidul, tapi saya enjoy sekali waktu menulis cerita ini dan saya harap kalian juga enjoy membacanya....




TANGGA-TANGGA AJAIB

“Hoi, awas!!!” sebuah suara bass terdengar keras di telinga Bella. Dia menoleh, tiba-tiba…
Bluk!!!
Sebuah bola basket menghantam wajahnya.
“Gila, lo! Apa-apaan, nih?!” Bella mulai ngamuk. “Siapa yang berani berbuat gitu sama gue?! Siapa?!” Bella ngamuk beneran!!!
“Sori..” suara bass tadi berbunyi lagi. “Gue nggak sengaja.”
Bella berbalik. Ow… Andi rupanya. Melihat cowok yang super keren itu, kemarahan Bella berubah jadi kegugupan.
“Sori. Sakit ya? Kalo lo mau bales, nih silakan. Gue emang salah…” ujarnya lagi sambil menyodorkan bola basket yang tadi ‘mendarat’ di muka Bella yang mulus.
“Udah, deh, nggak usah dipikirin.” Ujar Bella gugup.
“Eh, tapi coba gue lihat muka elo yang ketimpuk bola.”
Dengan lembut Andi meraba wajah Bella. Wow! Bella serasa terbang ke awan-awan.
“Kok muka elo panas! Elo demam ya?!” tanya Andi cemas.
“Ka… kayaknya gue lebih baik pulang.” Bella langsung berlari pulang.

*

Sampai di rumah, Bella langsung masuk kamar.
“Bella! Makan siang dulu!” teriak Mama.
“Bella belum lapar, Ma! Entar aja makannya!” jawab Bella.
Suara Mama tidak terdengar lagi. Di dalam kamarnya, Bella masih sibuk menenangkan debar jantungnya. Perlahan diambilnya buku Diary-nya dan mulai menulis.
Gila! Aku benar-benar nggak nyangka! Andi meraba wajahku! Wow! Benar-benar sebuah miracle!
Tulisnya
“Bella! Mau ikut jalan-jalan nggak?” Putra, kakaknya mulai bersuara.
“Iya! Bella ikut!” dengan sigap dia mengganti seragamnya dengan baju casual-nya.
Tak lama kemudian, mereka berdua sudah berada di jalan yang sangat asing buat Bella.
“Kak, ini dimana?”
“Ikut aja! Ntar juga tau.” Kakaknya mengedipkan sebelah matanya.
Bella terdiam. Suasana di situ benar-benar asing. Tempat itu lebih pantas disebut ‘pasar malam’. Ramai sekali! Dimana-mana banyak orang yang sibuk menjajakan barang dagangannya. Tiba-tiba, kakaknya berhenti di sebuah kios. ‘Peramal Deloris’ tertulis di atas kios itu.
“Bella, mau coba diramal nggak?” tanya kakaknya.
“Boleh, boleh!!!” Bella tampak bersemangat.
“Masuk gih sana.”
“Sendiri?!” mata bulat Bella mendelik
“Iya! Mana boleh berdua?!”
“Ya udah.” Bella menghembuskan napasnya dengan kencang. Kakinya dengan mantap melangkah masuk.
Suasana di dalam kios itu benar-benar angker. Lampunya remang-remang. Lampionnya berasa dari tengkoran manusia!
“Hai gadis manis…” suara serak itu mengejutkan Bella. Tampak seorang wanita yang berjubah hitam. Untung wajahnya tidak mengerikan.
“Namamu Bella, bukan?”
“Nenek tahu?”
“Tentu saja. Saat ini kamu lagi bahagia. Wow… seorang anak laki-laki bernama Andi. Siapa dia?”
Muka Bella memerah. Untung saja suasana di situ remang-remang.
“Pintar basket, tampan, berotak encer. Seorang idola, haah?” wanita itu tertawa pelan. “Kamu suka dia?”
“Be.. benar.”
“Masuklah ke sini dan mimpimu akan jadi kenyataan.” Wanita itu membuka sebuah pintu. Di dalamnya terdapat lorong yang gelap.
“Di bawah sini teradapat lima ratus tangga. Turunlah perlahan-lahan. Di tangga ke-500 mimpimu akan menjadi kenyataan.” Ujarnya pelan.
Bella masih ragu. “Tapi…”
“Jangan ragu.” Ucapan wanita itu meyakinkan Bella.
Perlahan-lahan, kakinya ditapakkan ke tangga-tangga tersebut. Sementara itu, dia mulai menghitung.
“1…2…3…4…5…6…7…8…9…10…11…12…13…14…15…16…17…18…19….20…”
Bella berhenti.
“Benar nggak ya kata peramal tadi. Apa gue balik aja?” gumamnya.
“Jangan ragu. Terus saja.” suara peramal itu terdengar menggema dan membesarkan hati Bella.
“21…22…23…24…25…26…27…28…28…30…31…32…33…34…35…”
Lorong itu sangat panjang dan… gelap! Sebenarnya lorong itu lebih mirip sebuah gua. Di kanan kirinya banyak batu karang. Bella terus berjalan dengan mantap.
“50…51…52…53…54…55… Hei kok ada cahaya di sisi kanan?” tanya Bella. Perlahan dia turun lagi. Rasa penasaran mengalahkan perasaan takutnya. Semakin turun, semakin jelas cahaya itu dan terdengar senandung kecil dari tempat datangnya cahaya itu.
Bella menahan napasnya. Jalannya lebih perlahan lagi. Dia mengintip ke sebuah ruangan yang bercahaya. Di dalamnya terdapat berpuluh-puluh meja rias dengan lampu yang bercahaya. Tampak seorang wanita berpakaian putih duduk di salah satu meja rias. Wajah Bella terpantul dari kaca meja rias itu.
“Oh, Bella manis. Silahkan masuk.” ujarnya ramah.
Bella tersenyum canggung. “Maaf, tadi saya mengintip.”
“Ah, tidak megapa. Setiap gadis yang datang ke mari selalu mengintip dulu, tapi tidak ada yang meminta maaf seperti kamu.”
Bella tersenyum lagi. Perempuan di hadapannya tidaklah cantik, tapi sangat ramah. Umurnya kira-kira 50-an. Perawakannya pendek. Matanya bulat jernih dan bibirnya yang dipoles lipstik merah selalu tersenyum.
“Kau ingin menjumpai pangeran impianmu bukan? Dandananmu tidak boleh asal begini. Ayo sini tante dandanin.” Ujarnya riang.
“Terima kasih, Tante. Tapi saya…”
“Tante tahu. Kamu tidak suka berdandan, tapi ini wajib hukumnya. Kalau Tante tidak mendandani kamu, Deloris bisa marah.”
Bella terdiam.
“Tante janji, tidak akan mendandanimu tebal-tebal. Tipis saja.” dia tersenyum.
“Baiklah.” Ujar Bella akhinya.
“Mukamu bulat, bentuk tulang pipimu bagus. Matamu bulat, hidungmu mancung. Bibirmu tipis manis dan kulitmu putih.” Perempuan itu menyebutkan beberapa kelebihan dalam wajah Bella. “Oke, ayo kita mulai.” Dia mulai menyiapkan alat-alat make-upnya. Bella berdecak kagum melihat alat-alat make-up yang super lengkap itu. Dari merek ‘Belia’ sampai ‘Revlon’ semua dimilikinya.
“Tante, saya baru sampai di tangga ke-60. Masih ada 440 tangga lagi. Apakah dandanan saya tidak luntur?” Bella tampak khawatir.
“Jangan khawatir, manis. Dandanan Tante ini tidak akan luntur sebelum mimpimu terwujud.” Senyumnya meredakan kekhawatiran Bella.
Perempuan itu kemudian asyik mendandani Bella.
“Tante…” Bella bersuara lagi.
“Ada apa, sayang?”
“Bagaimana Tante tahu nama saya?”
“Deloris yang memberi tahu.”
“Bagaimana Deloris bisa tahu?” Bella masih penasaran.
“Bella, Deloris kan seorang peramal. Tentu saja dia tahu.”
Bella berdecak kagum. Ternyata di zaman yang modern ini, masih ada orang yang mengetahui hal-hal mistik dengan baik. Salah satu contohnya ya Deloris tadi. Buktinya dia dapat mengetahui data-data Bella dengan baik, padahal Bella sama sekali tidak mengenal Deloris. Bukahkah hal itu hanya dapat dilakukan oleh orang yang mengenal dunia gaib? Mengingat itu, Bella ngeri sendiri.
“Nah, sudah selesai.” Ucapan perempuan tadi membuyarkan lamunan Bella. Bella membuka matanya. Tidak tampak perubahan di wajahnya. Bella mengerutkan keningnya. Bingung.
“Orang biasa memang tidak dapat melihat dandanannya sebelum mengenakan gaun putih ini.” Ujar perempuan tadi seperti membaca kebingungan Bella.
“Gaun ini?” Bella menunjuk ke gaun putih yang tergantung di sebelah meja riasnya.
“Benar. Pakailah.” Perempuan itu menyerahkan gaun putih itu kepada Bella. Bella menerimanya dan pergi ke ruang ganti yang terletak di sudut ruangan. Tanpa ragu, dia mengenakan gaun putih itu. Gaun putih itu pas sekali di tubuhnya. Anehnya, tubuh Bella terasa ringan.
“Bella, coba Tante lihat.” Bella ke luar dari ruang ganti dan berkaca lagi di meja rias. Kali ini dia dapat melihat pancaran kecantikannya. Dan gaun putih itu benar-benar indah! Bella merasa menjadi seorang putri.
“Astaga! Benarkah orang itu aku?!” tanyanya.
“Benar, manis, itu kamu.” Perempuan itu tersenyum.
“Ooh, Tante! Terima kasih karena telah membuatku menjadi sangat cantik. Terima kasih, Tante.” Bella memeluk perempuan itu.
“Pergilah, jangan buang-buang waktu lagi.”
“Baik, terima kasih sekali lagi, Tante.”
“Kau gadis tercantik yang pernah Tante dandani.”
Bella tersenyum manis. Dengan riang dia meneruskan langkahnya.

*

“80…81…82…83…84…85…86…87…88…89…90…91…92…93…94…95…96… Hhh… capek.” Bella ngos-ngosan sendiri.
“Hihihi Kak Bella capek ya?” suara itu melengking tinggi sekali.
“Siapa kamu?!”
“Hihihi…” suara itu tetap tidak menampilkan wujudnya.
“Hei! Jangan ketawa aja! Ayo, siapa kamu?”
“Kak Bella kok galak sih?! Hihihi…” suara itu berubah jadi nyebelin.
“Kalau kamu nggak mau ke luar, aku tetep galak!”
“Iya, iya, saya ke luar, tapi Kak Bella jangan kabur ya! Hihihi…”
“Oke.” Bella penasaran.
Tuing!!!
Tiba-tiba sebuah sosok mungil muncul di hadapan Bella.
“Mami!!!!” Bella menjerit keras sekali.
“Ssst..! Ribut! Kak Bella diam dong!”
“Kamu siapa?” Bella ketakutan setengah mati.
“Saya jin kecil.” Jawabnya sambil tertawa polos.
“Haah?! J… jin!!! Wah, tolong!!!” Bella menjerit lagi.
Tiba-tiba sosok jin itu menghilang.
“Hei kok kamu menghilang?” tanya Bella.
“Habis, Kak Bella ribut sih!” protesnya.
“Iya deh, aku janji nggak teriak lagi.” ujar Bella.
“Janji, ya?”
“Iya, swear!”
Dan tuiinggg… jin kecil itu nongol lagi.
Bella baru akan mulai membuka mulutnya lagi. Dia teringat ancaman jin kecil itu.
“Kamu ini kok berkeliaran di sini, sih?” tanya Bella.
“Saya emang di sini tempatnya. Jagain tangga ke-103 yang dikenal sebagai angka sial itu.”
“Lho, angka sial bukannya 13?” tanya Bella.
“Hihihi… Kakak tahu ya?” dia mulai tertawa lagi. “Tangga ke-13 kan tangga permulaan, saya nggak suka. Terang sih! Jadi saya usul sama Deloris biar saya jagain tangga ke-103 aja. Sama aja kan kalo nolnya dihilangkan jadi angka 13.”
“Eh, kamu jin ngerti matematika juga ya?”
“Eh, jangan menghina ya! Gini-gini saya sudah lulus SD, tahu!”
“Ohya?! Terus kenapa nggak diterusin ke SMP?”
“Terlanjur dibeli sama Deloris.” Ujarnya sedih.
“Eh, kamu jangan sedih dong! Nanti kesurupan setan loh!”
“Loh, saya kan setan, Kak?”
“Oh iya, ya. Lupa!” Bella nyengir. “Eh, udah ya! Saya mau nerusin lagi. Kamu nggak usah sedih, deh. Nanti kalau saya dateng lagi, kamu saya bawain buku pelajaran. Biar kamu bisa belajar. Ok!” Bella berdiri dan mulai berjalan lagi.
Good luck, ya, Kak.” Jin itu tampak bersemangat.
“Gile nih, jin. Bisa ngomong Bahasa Inggris juga!” Bella geleng-geleng kepala.

*

“120…121…122…123…124…125…126…127…128…129…130…131…132…133…134…135…136…137…138…139…140… Waah!!!”
Di tangga ke-140, Bella terperosok ke seuah lubang dekat tangga itu.
“Tolong!!!” suara Bella melengking.
“Sebutkan namamu!” terdengar sebuah suara.
“Bella!!!” bella terus jatuh ke bawah. Brukk. Akhirnya Bella terjatuh di sebuah lantai berpapan.
“Aduhh…” Bella meringis pelan.
“Hei, kamu nggak kenapa-napa, kan?” tanya sebuah suara.
“Aduh, aku masih hidup kok.” Ujar Bella sambil merintih. Tiba-tiba di hadapannya, muncul seorang anak kecil. Seorang anak laki-laki. Umurnya kira-kira 12 tahun. dia memegang sebuah tongkat panjang.
“Siapa kamu?” tanya Bella.
“Aku Athor, penjaga ‘gua jatuh’. Kau sudah terjatuh di sini.” Ujarnya sambil memamerkan senyum manisnya.
“Aku bisa naik lagi, nggak?”
“Tentu aja bisa, tapi kamu harus mendaki dinding gua ini.” Ujarnya sambil menunjuk ke dinding gua yang tinggi.
“Aku coba, deh.” Bella coba berdiri, tapi, “Aduuh…”
“Kenapa?” tanya anak itu.
“Kakiku terkilir. Sakit sekali!” wajah Bella pucat.
“Udah, deh. Mendingan kamu istirahat dulu.”
“Athor, sesudah kamu masih ada siapa lagi, sih?”
“Maksudmu sesudah ‘gua jatuh’ ini?”
“He-eh.” Bella mengangguk.
“Kamu nanti bisa ketemu paman dan kakakku.” Ujarnya.
“Paman dan kakakmu?”
“Iya, pamanku bisa kau temui di dapur gua. Dia juru masak di gua ini.”
“Dan kakakmu?”
“Dia penjaga mata air. Jangan khawatir, mereka baik kok.” Anak itu tersenyum lagi.
“Athor, aku mau naik lagi, tapi kakiku sakit sekali.” Ujar Bella pelan. “Bagaimana ini?”
“Duduklah dan julurkan kakimu.” Perintahnya. Bella menurut saja. Dia menjulurkan kakinya.
Athor bernapas teratur. Matanya terpejam rapat. Kemudian perlahan tanganya mengusap lembut kaki Bella. Bella merasa ada sungai yang mengalir di kakinya. Dingin kemudian hangat.
“Kakimu sudah sembuh.” Bella mencoba menggerakkan kakinya. Ternyata sudah tidak sakit lagi.
Thanks ya, Athor.” Bella tersenyum manis.
“Sama-sama.” Athor juga tersenyum. “Ayo kita naiK!” ajaknya.
“Oke, ayo!” Bella bersemangat lagi.
Perlahan mereka mendaki lagi. Athor cepat sekali mendakinya! Sebentar saja, dia sudah sampai ke tengah-tengah dinding. Sementara Bella baru merambat perlahan-lahan.
“Hei, kamu lama sekali sih?!” Athor tampak kesal.
“Jelas dong! Aku kan perempuan. Kamu laki-laki.” Bella terengah-engah.
“Lho, apa bedanya? Bahkan kamu lebih besar daripadaku.”
“Jelas beda! Aku ini mahkluk yang diciptakan Tuhan sebagai orang yang lemah. Sedangkan kamu diciptakan Tuhan sebagai seorang yang kuat.” Jelas Bella.
“Aku tetap ngga ngerti tuh!”
“Kamu polos banget, sih!” Bella tersenyum.
“Lalu apa bedanya aku dan kamu?” tanyanya lagi.
“Nih, lihat aja bajuku. Ini gaun dan pakaianmu adalah celana. Itu udah menunjukkan perbedaan kita dengan jelas.” Bella terus mendaki. Kali ini Athor ketinggalan jauh di bawah, tapi kemudian dia menyusulnya dan berada di atas Bella lagi.
“Masih ada perbedaan lain nggak?” rupanya dia masih penasaran.
Bella mengatur napasnya, “Lihat tangan dan kakimu, kekar kan? Urat-uratnya menonjol ke luar. Itu menandakan kalau kamu adalah seorang laki-laki. Sedangkan tanganku halus dan lembut. Urat-urat di tanganku sedikit yang menonjol ke luar bahkan ada yang tidak ada sama sekali. Itu menandakan aku adalah seorang wanita.” Jelas Bella panjang lebar.
“Hanya itu?” tanya Athor polos.
“Tentu saja masih banyak lagi, tapi sekarang nggak bisa aku jelaskan. Soalnya, kamu masih terlalu kecil. Nanti kalau kamu sudah dewasa, kamu pasti tahu sendiri.” Akhirnya Bella mencapai puncak dinding gua itu.
“Athor, aku sudah sampai. Gimana cara ke luar dari gua ini?”
“Sebentar.” Athor menyentuhkan tongkatnya kepada langit-langit gua itu. Tiba-tiba, langit-langit itu terbuka. Bella tersenyum lebar.
“Athor, terima kasih kamu sudah mau membantuku ke luar dari sini.” Bella mengecup lembut kening Athor.
“Bella, kamu sungguh cantik.” Athor berkata dengan polos.
“Hmmm… anak lugu.” Bella mengusap rambut Athor. “Udah ya, aku pergi.” Bella pamit kepada Athor.
Sesampainya Bella di tangga-tangga itu, langit-langit ‘gua jatuh’ tertutup lagi. bella melihat Athor menitikkan air mata…

*

“201…202…203…204…205…206…207…208…209…210…211…212…213…214…215…216…217…218…219…220… Aduh kok jadi laper ya.” Bella mengusap perutnya.
“Oh iya, tadi gue belum makan siang! Gawat! Gimana, nih?” Bella menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu.
“Eh, itu ada makanan.” Mata bella melihat apple pie yang tergeletak di tangga.
“Tapi, beracun nggak ya?” Bella ragu. Tiba-tiba pluk! Ada sesuatu yang ditimpukkan ke kepalanya.
“Aduh, apaan nih?” Bella mengusap kepalanya.
“Hei! Kamu ini anak gadis tapi berprasangka buruk!” sebuah suara berat menggema di gua itu.
“Siapa kamu?”
“Aku koki di gua ini. Dan aku tidak akan pernah mencampurkan racun dalam masakanku, tau!” sebuah sosok pendek ke luar dari sisi kiri gua. Bentuk tubuhnya bulat pendek, dia mengenakan topi koki dan celemek yang sudah sangat kotor.
“Anda koki di gua ini?” Bella mengerutkan keningnya. “Berarti Anda adalah paman Athor, penjaga ‘gua jatuh’. Iya, kan?” tebak Bella.
“Betul sekali, gadis manis.” Dia tertawa terkekeh-kekeh. “Kamu lapar? Ayo masuk! Di sini banyak makanan yang enak.” Dia mempersilahkan Bella masuk ke sebuah ruangan. Ruangan itu adalah sebuah ruang makan. Di tengah ruangan itu terdapat sebuah meja makan yang panjang. Dan di atasnya terdapat bermacam-macam makanan yang enak-enka. Bella kemudian dipersilahkan duduk.
“Nah, cicipilah gadis manis.” Orang itu tertawa lagi.
Bella mengangguk dan mulai mencicipi makanan-makanan itu satu per satu. Dia memulai dengan agar-agar yang berwarna merah, kemudian sepotong paha kalkun, semangkuk sup asparagus, sepotong kue tart, minum juice jeruk dan mengakhirinya dengan cake puding. Semuanya lezat!!!
“Terima kasih, Paman. Ini semua benar-benar lezat sekali.” Bella membersihkan mulutnya.
“Kamu sudah kenyang?” tanya orang itu.
“Saya kenyang sekali.” Bella menjawab sambil tersenyum.
“Lanjutkanlah perjalananmu. Jangan buang-buang waktu lagi.” dia tertawa lagi.
“Terima kasih banyak, Paman.”
“Semoga berhasil.” Dia menepuk-nepuk pundak Bella.

*I

“390…391…392…393…394…395…396…397…398…399…400… Hhh… masih ada 100 tangga lagi. Perasaan lama banget, deh.” Bella terengah-engah. “Mana sekarang haus lagi!” sungutnya. Dia terdiam. Telinganya menangkap bunyi gemericik air. Makin jelas terdengar. Jelas dan jelas. Akhirnya di tangga ke-420, Bella menemukan sebuah kolam degan pancuran air di tengahnya.
“Air…” Bella bagai orang yang melihat harta karun. Cepat diraupnya air itu dan langsung diminumnya.
“Segar!” ujarnya sambil tertawa senang. Tiba-tiba, dari belakang ada sosok yang mendorongnya. “Waa!!!” Bella tercebur ke dalam kolam itu.
“Hahaha!!!” terdengar tawa yang membahana.
“Blep… glek… siapa kamu?” Bella megap-megap di dalam kolam.
“Aku yang harus bertanya, siapa kamu?” sebuah sosok tegap ke luar dari gelap.
“Aku.. glek…” Bella tidak bisa berbicara. Tiba-tiba sepasang tangan kekar menari tangannya ke luar dari kolam itu.
“Kenapa kamu menolong dia?!?!?!” suara itu membahana lagi.
“Dia Bella.” Suara lain juga membahan, tapi yang ini lebih lembut.
“Kau tidka apa-apa?” dia membungkuk di hadapan Bella.
“Hanya sedikit kaget.” Jawab Bella.
“Maafkan. Akibat ulah saudara kembarku, bajumu jadi basah kuyup begini.” Ujarnya penuh sesal.
“Saudara kembar?” Bella mengusap matanya dan sekarang dia dapat melihat dua sosok itu dengan jelas. Dua orang cowok keren! Yang satu mengenakan baju berwarna merah dan yang berada di dekat Bella mengenakan baju berwarna biru. Wajah mereka satu samalain benar-benar mirip. Tidak bisa dibedakan! Saat ini Bella hanya dapat membedakan mereka lewat warna baju mereka yang berbeda.
“Hei, kaum hawa! Siapa namamu?” cowok yang berbaju merah mencengkram tangan Bella keras. Bella meringis kesakitan.
“Lepaskan dia! Sudah kubilang tadi, namanya Bella!” cowok yang berbaju biru menarik tangan saudara kembarnya.
Bella terdiam. Sekarang, dia melihat perbedaan mereka dengan jelas. Meskipun bertubuh sama-sama kekar, tapi si baju merah lebih kasar daripada si baju biru. Wajah mereka pun berbeda. Si baju merah mempunyai wajah yang keras dan berkesan selalu memendam benci dan dendam. Sedangkan si baju biru berwajah lembut dan bersahabat.
“Mengapa kamu selalu membela dia?!” si baju merah mulai mengamuk. Matanya memandang tajam ke arah si baju biru.
“Dengar! Aku tidak peduli kau lahir lebih dulu, tapi tingkahmu benar-benar sudah keterlaluan, tau!” si baju biru tidak kalah geram. Tubuhnya menggigil menahan marah.
“Hatssyyiii…” tiba-tiba Bella bersin.
“Dasar kaum lemah! Begitu saja mulai bersin!” si baju merah melecehkan.
“Kamu dingin?” si baju biru mengambil kayu bakar di dekat kolam air itu dan mulai membuat api. “Nah, duduklah di depannya supaya kamu merasa hangat.” Si baju biru membimbing Bella ke depan api unggun.
“Maafkan saudara kembarku. Dia memang kasar, tapi sebenarnya dia baik hati.”
Bella tersenyum tipis.
Byaar!!!
Tiba-tiba api unggu di hadapan Bella bertambah besar.
“Awas apinya marah!!! Hahaha!!!” si baju merah membuat masalah lagi.
“Kamu benar-benar keterlaluan!” si baju biru geram. Dia berdiri dan kemudian menerjang kea rah si baju merah. Mereka berkelahi. Terjadi pergumulan seru di antara mereka berdua. Bella takut. Dia tidak tahu harus berbuat apa. Dia benar-benar takut… sementara itu, api di hadapannya terus membesar!!!
“Toloongg!!!” akhirnya dia berteriak.
Pergumulan yang seru itu berhenti. Mereka berdua menoleh kea rah Bella yang terjebak api besar.
“Kak, tolong dia. Hanya kau yang punya kuasa atas api. Kumohon tolong dia.” Si baju biru berlutut di hadapan baju merah.
Si baju merah tampak ragu.
“Tolong!!!” kali ini Bella berteriak lebih keras lagi.
“Kak, tolong dia!!!” si baju biru mendesak saudara kembarnya. Si baju merah menghembuskan napasnya kuat-kuat. Seketika itu api yang tadi besar mulai padam dan akhirnya sinarnya padam sama sekali!
“Kau tidak apa-apa?” tanya si baju biru.
“Tanganku terbakar!” Bella menjerit. Si baju biru tampak bingung. Tiba-tiba si baju merah mencengkeram pundak si baju biru.
“Biar kusembuhkan.” Ujarnya. Dia kemudian mendekati Bella. Dilihatnya tangan Bella yang terbakar. Dia menghembuskan napasnya perlahan ke tangan Bella. Tangan Bella sembuh! Hanya terdapat bercak-bercak hitam saja.
“Bercak ini dapat dihilangkan oleh saudara kembarku.” Dia menoleh ke arah saudaranya. “Giliranmu.”
Si baju biru mendekati Bella. Sama dengan si baju merah. Dia juga menghembuskan napasnya ke tangan Bella. Terdapat cahaya warna biru di atas tangan Bella. Cahaya itu berputar membentuk suatu bulatan dan akhirnya cahaya itu meresap ke tangan Bella. Tangan Bella berwarna kebiru-biruan dan kemudian putih kembali. Bercak hitam itu hilang dan luka Bella sembuh total!
“Nah, tangamu sudah sembuh.” Si baju biru tersenyum.
“Maaf, aku telah berlaku kasar terhadapmu.” Si baju merah mendekat.
“Aku tidak tahu siapa kalian, tapi kuharap akurlah. Jangan bertengkar terus. Kalian ini bersaudara, tak baik bila terus bertengkar.” Bella menatap si baju merah. “Kamu lebih tua daripada saudaramu. Bersikaplah lebih baik untuk memberi contoh kepada saudaramu. Jangan sampai kau tak dihormati adikmu.”
“Dan kau…” Bella menapat si baju biru. “Kamu sungguh baik hati. Terima kasih atas pertolonganmu.”
Si baju biru tersenyum.
“Nah, aku harus melanjutkan perjalananku lagi.” Bella berdiri.
“Tunggu!” kata mereka serempak. Bella menoleh. Tiba-tiba mereka berdua mendaratkan kecupannya di pipi Bella. Si baju biru di pipi kanan Bella, si baju merah di pipi kiri Bella.
“Selamat jalan, Bella.” Bisik mereka.
Bella pun melanjutkan perjalanannya.
“Cowok-cowok yang menyenangkan.” Gumamnya.

*

“480…481…482…483…484…485…486…487…488…489…490…491…492… Hei di ujung tangga ini masih ada orang. Menurut Athor, setelah kakaknya penjaga mata iar, tidak ada siapa-siapa lagi.” gumam Bella.
“Hallo, manis. Selamat kamu berhasil melewati semua rintangan di tangga ini. Sekarang, di tangga yang terakhir ini, mimpimu akan terwujud.” Di tangga ke-500 terdapat sebuah pintu dengan seorang wanita berjubah seperti Dewi Aphrodite menjaganya.
“Siapa kamu?”
“Aku penjaga dunia mimpi.” Ujarnya sambil tersenyum manis. “Kamu ingin menemui pangeranmu bukan? Dia ada di sini.” Wanita itu membuka pintu di sisi kanannya. Dari dalamnya ke luar sinar putih yang amat menyilaukan. Bella menyipitkan matanya. Sinar putih itu makin lama makin hilang.
“Masuklah.” Bella melangkah masuk. Ternyata dia berada di sebuah lapangan basket. Rupanya ada pertandingan basket di situ. Bella terkesiap ketika melihat seorang cowok yang men­-dribell bola dengan lincahnya. Dia melompat dan memasukkan bola ke dalam ring basket.
“Andii…” teriak Bella. Andi terdiam dan menatap ke arah Bella, tapi kemudian dia berkonsentrasi lagi pada pertandingan yang sedang berlangsun.
“Andi! Ini aku Bella!” Bella berusaha mendekati Andi, tapi dihadang oleh dua orang berbaju zirah.
“Maaf! Kamu tidak boleh mendekati dia!” ujar salah satu dari mereka.
“Andi! Aku Bella!!! Andi!!!” Bella menjerit sekuat-kuatnya.
Tiba-tiba Andi terdiam. Dia berhenti bermain. Pemain-pemain lain juga berhenti. Sorak-sorai penonton terdiam. Semua memandang ke arah Bella.
“Bella! Bella! Bella!!!” semua meneriakkan namanya.
“Tidaaakkk!!!” Bella menutup dua matanya. Gelap!

*

“Bella! Bella! Bangun! Kamu ini belum ganti baju seragam, belum makan siang, udah molor! Malu tuh sama kucing tetangga!” Putra, kakak Bella mengguncang-guncangkan tubuh Bella.
“Kak Putra!” Bella tampak bingung.
“Gih, sana mandi dulu! Bau tau!” goda kakaknya. Kakaknya berjalan ke luar dari kamar Bella. “Udah mandi, makan siang! Buruan! Udah ditungguin Mama tuh!”
Bella masih termangu di meja belajarnya.
“Semua ini mimpi…” gumamnya. Dia menatap wajahnya didepan meja riasnya. Lemari pakaiannya terpantul dari cermin meja riasnya. Sebuah gaun putih terpantul jelas di cerminnya. Gaun itu tergantung di depan lemari pakaiannya. Bella mengusap matanya. Dia mengenali gaun itu sebagai gaun yang dia pakai selama dalam mimpi tadi!
Bella terkejut! Dia berjalan menuju lemari pakaiannya dan meraba gaun putih itu. Benar-benar nyata! Tiba-tiba suara ketukan pintu berbunyi dan Putra menyembulkan kepalany.
“Ada telepon dari Andi.” Ujarnya.
Dengan ragu Bella menjawab telepon itu.
“Ha… hallo…”
“Ehm, Bella ya.. kamu nggak apa-apa, kan?” Tanya suara bass di seberang. Suara Andi!!!
“Aku baik-baik aja kok.”
“Bella, hari Sabtu nanti kamu ada janji nggak?”
“Nggak, kenapa?”
“Aku mau ngajak kamu nonton. Mau nggak?”
Oh God! Bella benar-benar nggak nyangka!!!
“Hallo! Bella, kamu masih di situ?” tanya Andi khawatir.
“Eh, masih.” Jawab Bella gugup.
“Gimana?”
“Boleh.”
“Bener ya! Eh, Bella besok aku jemput kamu ke sekolah ya.” Tawar Andi lagi.
“Boleh.” Sekali lagi Bella mengangguk.
“Oke, udah dulu ya.” Andi menutup pembicaraan mereka.
“Cihuiii!!!” Bella melompat kegirangan.
“Hoi! Apa-apaan lo?!” Putra kebingungan.
“Gue lagi seneng!” Dia nyengir lebar.
“Seneng seneng, tapi lo belon mandi tau!”
“Iya, iya. Gue mandi! Bye!” Bella gila lagi.
Putra cuma geleng-geleng kepala. Bingung.

Selasa, 05 Juni 2012

Novel baru

Hai hai semuanya....

Lama tak berjumpa. Mau ngabarin nih, aku punya novel baru lagi.






 Aleeta hanyalah peri muda biasa. Namun, ia memiliki kelebihan, yaitu cantik dan pintar. Pangeran Amedo, putra mahkota kerajaan peri Anamile, menyukainya. Itu membuat peri lain iri kepada Aleeta.


Ketika Selos, kakak Aleeta yang juga sahabat Pangeran Amedo ditawan oleh Nexia, peri penyihir jahat yang ditakuti oleh semua makhluk peri, Aleeta ingin membebaskannya. Dengan ditemani oleh Pangeran Amedo, Aleeta menempuh perjalanan yang berbahaya dan menegangkan. Mereka harus berhadapan dengan para Manusia Hutan dan naga ganas : Durango agar bisa sampai ke Istana Nexia, tempat Selos ditawan.


Istana Nexia adalah istana menyeramkan yang hanya dapat dicapai setelah menuruni seribu tangga dan bertempur menghadapi para penjaga anak tangga, seperti Lutzeus anjing penjaga maut, monster hitam Wittega, bayangan hitam, monster pembaca pikiran, Oxretostipoz, monster wanita Ponduta, ular setan Terichola, dan masih banyak lagi.


Berhasilkah Aleeta dan Pangeran Amedo membebaskan Selos? Berhasilkah Aleeta mengalahkan Nexia, peri jahat yang ditakuti semua mahkluk peri? Ayo, kita ikuti petualangan Aleeta!





Judul : Seri Petualangan Aleeta 'Petualangan Seribu Tangga'
Penulis : Irena Tjiunata
Genre : Fantasi anak-anak kelas 4SD ke atas
Penerbit : Kanisius
Jumlah halama : 192 hal
Bulan terbit : Mei 2012
Harga buku : Rp 28.000,-

Yang mau dapat buku ini secara gratis, ikuti kuisnya di facebook-ku : Irena Tjiunata.
Ayo buruan beli!!!!