Kamis, 25 Agustus 2011

Oscar on air di acara Dongeng Pagi FeMale Radio

Selama Oscar sekolah (dari tanggal 18 Juli kemarin), moment yang paling ditunggu2 adalah acara Dongeng Pagi di FeMale Radio. Kalo Oscar lagi ngadat, n males bangun pagi, biasanya aku akan bilang 'Ayo cepetan, nanti ketinggalan dongeng pagi-nya Paman Geri loh...' Biasanya berhasil, walau lebih banyak nggak berhasil juga hehehehe...

Anyway, dongeng pagi itu isinya ya dongeng, sesuai dengan judul acaranya. Jadi ada pembacaan dongeng yang dilakukan oleh penyiar radio FeMale: Paman Geri dan Bubu Mini. Setelah dongeng, akan ada pertanyaan seputar dongeng. Nah, di sini para pendengar diajak berpartisipasi untuk menjawab pertanyaan yang diberikan. Aku lumayan rajin jawab via SMS. Setiap hari, nama Oscar Asairo Hogan pasti akan disebut-sebut Paman Geri. Kadang juga ditambahkan informasi lain seperti: "Hari ini Oscar pakai seragam kotak2", atau "Hari ini ada pelajaran Komputer", atau juga "Kemarin Oscar habis nonton Kungfu Panda 2". Oscar akan sumringah begitu tau namanya disebut. Apalagi kalau Paman Geri membacakan tambahan2 informasi yang sebenarnya aku ketikkan via SMS. Dengan wajah bersinar-sinar, dia akan bertanya, "Kok Paman Geri tau ya???"

Nah, hari ini adalah hari yang spesial untuk pangeran kecilku. Tadi pagi sedikit riweh dan hampir saja Oscar terlambat mendengarkan dongeng pagi yang selalu ditunggu-tunggu itu. Ceritanya hari ini tentang seorang pangeran yang sering berkata-kata kasar. Pertanyaan yang diberikan adalah "Sebutkan kata-kata baik yang kamu tahu?" Kebetulan kemarin2 pernah diputar lagu tentang 'Terima kasih, Tolong, dan Maaf.' Aku langsung mengetikkan ketiga kata itu sambil nanya2 ke Oscar. Dia juga setuju kalau ketiga kata itu termasuk kata2 yang baik. Nggak berapa lama, hp-ku bunyi dan suara Paman Geri terdengar menyapa. Wah, surprise banget nih!!! Buru2 hp kusodorkan ke Oscar. Oscar juga kelihatan amazed banget karena ditelpon Paman Geri. Paman Geri menanyakan jawaban kuisnya dan Oscar bisa menjawab dengan lancar, sambil kupandu sedikit2. Paman Geri bilang kalau telponnya jangan ditutup dulu. Sambil deg2an dan berbisik supaya Oscar menjawab dengan suara lantang, aku, Ronal, dan Oscar nungguin panggilan dari Paman Geri.

Dan... Paman Geri pun menyapa Oscar. Dia nanyain sekolah Oscar dan nama lengkap Oscar (yang menurutnya keren itu hehehe...). Oscar bisa menjawab dengan lantang. Terus dia juga nanyain soal jawaban pertanyaan dan Oscar juga bisa menjawab dengan cukup oke, yah.. mengingat ini pengalaman pertama dia on air di radio :D

Oscar seneng banget. Mukanya secerah matahari siang hari!!! Thanks to Paman Geri n FeMale Radio yang bikin Oscar-ku seneng banget hari ini...

Senin, 22 Agustus 2011

Susahnya belajar menulis...

Oscar udah satu bulan lebih sekolah. Sudah mulai teratur ritmenya. Bangun pagi, kadang masih cranky. Biasa lah. Terus siang jadi cepet ngantuk. Jadi jam makan siang dimajuin n jam tidur siang juga jadi maju.

Mulai dua minggu terakhir ini, aku mulai ngajarin nulis. Tadinya sih baru bikin garis, gerak melingkar, garis miring, gitu-gitu aja. Tapi ternyata, di sekolah udah mulai diajarin nulis angka 1, 2, dan huruf i. Nah, waktu itu, dia panik duluan. Sempet nangis juga karena ngerasa belum bisa. Terus di rumah, aku ajarin. Waduh... ternyata belajar nulis bagi anak2 itu bener nggak gampang banget ya???? Baru merasakan sekarang ini. Jadi, waktu baru mau nulis angka 2 (angka 1 dia udah bisa), pas ngambil pensil aja keliatan dia udah panik gitu. Mungkin takut gak bisa kali ya? Terus aku semangatin terus. Baru dia mau buat goresan bulat. Itu aja aku perhatiin, ya ampun, tangannya gemetaran hebat!!! Wah, Nak, kamu benar-benar perlu usaha keras ya...

Sekarang sih udah mulai bagus goresannya. Walaupun angka 2 dan 3-nya masih berantakan, tapi it's oke lah. Untuk seumuran dia, menurutku udah bagus. Aku juga bilangin dia, gak perlu takut kalo belum bisa ngerjain tugas. Temen-temen lain juga sama2 masih belajar, jadi semuanya juga masih belum bisa. Sejak itu, sih Oscar lebih tenang kalo ke sekolah.


Fiiiuuuhhh... repot juga ya ternyata. Ini cuma belajar nulis aja. Belum belajar yang lain2nya. Eh, tapi berhitung sih udah lumayan. Oscar udah bisa menghitung benda/ gambar konkrit sampai 20. Bicara juga oke banget dia :D Semakin ke sini, pasti dia akan semakin bisa.

Cia you, Nak. Kamu pasti bisa! Mama pasti bantuin kamu!

Minggu, 21 Agustus 2011

The Bridesmaid's Story

Judul: The Bridesmaid's Story
Penulis: Irena Tjiunata
Terbitan: GPU, November 2010
Harga: Rp 46.000


Menjadi seorang bridesmaid sangat merepotkan!!! Harus siap membantu dalam semua persiapan pernikahan. Harus dapat memberi masukan yang berarti apabila diminta oleh si calon pengantin. Harus siap menerima curahan hati dari calon mempelai wanita yang tertekan. Dan semua itu harus dilakukan Kesya Artyadevi di sela-sela kesibukannya merancang perhiasan pesanan klien, melayani klien yang heboh dan gila perhiasan, serta mengikuti pameran perhiasan sampai taraf internasional.

Tapi itu belum seberapa!

Tambahkan kerepotan itu dengan:

  1. Cecilia Almira Saraswati, si calon pengantin wanita yang drama queen dan super sibuk.
  2. Finna Salsabila, si sepupu jauh calon pengantin wanita yang ribet dan selalu ikut campur dengan cara-caranya yang ajaib.
  3. Tante Jessica Lionel Andersen, si ibu mertua yang tidak menyukai si calon pengantin wanita dan tidak menginginkan pernikahan terjadi.
  4. Raden Ayu Sekar Ningrum, si mantan pacar, yang ingin merebut kembali calon pengantin laki-laki!!!

Semuanya itu membuat Kesya double repot!!!

Hmmm…. tapi tentu ada sesuatu yang dapat menghapus semua kerepotan yang dialami Kesya.

Apa ya???

Mungkin Marco Raphael Eagen, si bestman dengan senyum seksi dan menawan.

'The Twins Exchange'


Judul: The Twins Exchange

Penulis: Irena Tjiunata

Terbitan: GPU, Oktober 2009

Harga: Rp 32.000







Pernah dengar cerita ‘The Prince and The Pauper’??? Cerita tentang seorang pangeran yang bertemu dengan pengemis berwajah mirip dengan dirinya. Si Pangeran bosan dengan kehidupan kerajaan yang sangat protokoler, sedangkan si Pengemis bosa dengan kehidupannya yang miskin terus. Mereka kemudian memutuskan untuk bertukar tempat. Si Pangeran jadi si Pengemis, si Pengemis jadi si Pangeran.

Yah…. cerita ini juga mirip-mirip. Mirip-mirip, nggak sama persis. Kaerna tokoh utama dalam cerita ini adalah cewek dan cowok!!!

Editha Maharani Syahriel…

Cewek aktif yang suka banget sama judo. Olahraga keras itu seperti darah yang mengalir dalam nadinya, seperti nafas yang setiap hari harus mengisi paru-parunya. Masalahnya adalah mamanya, si pianis terkenalitu, tidak ingin putrinya jadi atlit judo. Mamanya ingin agar Edith jadi pianis terkenal, persis seperti dirinya. Padahal, Edith nggak suka main piano.

Radith Bara Wejana…

Dilahirkan dalam keluarga atlit judo. Orangtuanya adalah mantan atlit judo terkenal. Kakaknya sedang dalam pembinaan untuk mengikuti Olimpiade, sedangkan adik kecilnya sudah diikut sertakan pada kejuaraan judo tingkat nasional. Orangtuanya juga mengharapkan hal yang sama terhadap Radith. Masalahnya, dia tidak suka judo. Dia lebih tertarik untuk duduk berjam-jam berlatih piano, berlatih lagu-lagu gubahan komposer terkenal.

Suatu hari mereka bertemu. Menyadari kemiripan satu sama lain, mereka kemudian bertukar tempat. Apalagi saat itu Edith harus konsentrasi untuk mengikuti kejuaraan judo se-Jakarta dan Radith harus latihan keras untuk festival pianonya. Semuanya sepertinya aman-aman saja. Tapi ketika Edith mulai mendapatkan haid pertamanya, dan Radith mulai berubah suaranya, semuanya tidak aman-aman saja. Belum lagi saat orang-orang dekat mereka merasa jatuh cinta kepada mereka!!! Wah kacau!!!

Hai hai...

Ternyata aku udah punya blog! Hehehe....
Gara-gara pertanyaan dari salah seorang teman facebook dan liat beberapa teman penulis punya blog dan website sendiri, jadi kepikiran untuk bikin blog juga. Pas liat2 di blogspot.com, ternyata aku udah punya blog. Lho?! Hehehe...

Ternyata dulu aku bikin blog ini pas tahun 2008. Kayaknya waktu itu ada promo apa gitu deh, jadi aku terpancing juga untuk bikin blog ini. Tapi, yah, karena kurang rajin update, jadi terbengkelai deh blog-nya.

Nah, mulai sekarang pengin coba aktif nulis di blog deh.... Isinya yah paling apa aja yang ada di kepalaku. Just enjoy it, ya...

Cheers,

Iren

Senin, 22 September 2008

Buku perdana saya...

Temans,
Mau kasih tahu kalau novel perdana saya sudah terbit. Judulnya : A Thousand Stairs. Novel ini cerita tentang petualangan peri muda yang bernama Aleeta. Ayo, pada beli ya...
Cek di www.bookoopedia.com. Hanya dijual di toko buku on-line. Thanks.
Enjoy my book…

Kamis, 07 Agustus 2008

FOTO PERSAHABATAN

Ruri lagi santai-santai di kamarnya. Di pangkuannya terdapat majalah remaja yang baru saja dipinjamnya dari Kak Echi.
“Wah… foto persahabatan!!!!” mata Ruri terpaku pada salah satu halaman dari majalah itu. Itu adalah pengumuman tentang lomba foto persahabatan. Ruri langsung teringat akan empat sahabatnya, Eni, Sasa, Desi, dan Melly. Tapi….
“Peserta harus sudah duduk di kelas VI SD. Foto persahabatan terdiri dari maksimal 3 orang, mengenakan pakaian casual. Foto harus bertemakan persahabatan …” Ruri membaca pelan. “Wah… maksimal 3 orang, sementara kita semua berlima… Wahh… nggak bisa deh…” Ruri menggeleng pelan.
“Hai Ruri!!!!”
Tiba-tiba, Eni, Sasa, Desi, dan Melly masuk ke dalam kamarnya.
“Hai…. dari tadi ditungguin kok baru datang sekarang…”
Keempat sahabatnya hanya tertawa saja.
“Ini, Mamaku tadi buatin makanan kecil buat kita semua…” Desi menyodorkan sekantong penuh kue kering buatan mamanya.
“Waah… pasti enak deh!!!”
Berlima mereka menikmati kue kering pemberian Mama Desi.
“Eeh.. apa nih?” Melly mengambil majalah yang tadi diletakkan Ruri begitu saja. “Foto persahabatan???”
Ruri mengangguk, “Tapi kita nggak bisa ikutan. Soalnya maksimal cuma bertiga aja…”
“Waah sayang ya… padahal lucu tuh ya kalau kita ikutan…”desah Sasa.
“Iya… lucu juga…” Eni menimpali.
Ruri terpekur. Sampai keesokan harinya, lomba foto persahabatan itu terus mengganggu pikirannya. Dia ingin mengikuti lomba itu, tapi siapa yang akan dipilihnya untuk berfoto bersamanya??? Mereka kan bersahabat lima orang, kalau hanya dipilih 3 orang, tentu saja harus ada yang dikorbankan. Tapi, siapa yang mau dikorbankan???
Sore ini mereka berlima berkumpul di rumah Desi.
“Aku kepikiran terus nih sama lomba foto persahabatan…” ujar Desi.
Ruri yang sedang baca komik jadi kaget. Ternyata Desi juga berpikiran sama dengan dirinya!!!
“Kita kan udah kelas VI, kita bersahabat, jadi harusnya kita bisa ikut lomba foto persahabatan itu…”
“Tapi kan… harus bertiga aja, sedangkan kita semua berlima.” kata Eni.
“Ya… kalau begitu, kita pilih aja tiga orang dari kita…” ujar Desi.
“Jadi maksud kamu pilih yang paling cantik di antara kita berlima!!!” mata Melly membulat. “Udah pasti aku nggak kepilih deh!!! Aku kan jelek, gendut, kalau dibandingin sama kamu mah jauh…” ujarnya sedikit sewot.
Tuuh kan!!! Jadi berantem deh….
“Aku… aku nggak bermaksud begitu…” ujar Desi tergagap-gagap.
“Maksud kamu apa jadinya?!?!?!” kali ini Sasa menimpali. “Aku juga pasti nggak bakal kepilih kan?! Aku kan kurus, ceking, mana bisa dibandingin sama kamu, Ruri, atau Eni?!?!?!”
“Aduh, udah deh!!!!” Ruri buru-buru melerai. “Nggak usah diributin. Kita nggak usah ikutan foto persahabatan itu aja.”
Tapi, suasana terlanjur tidak enak. Melly dan Sasa langsung pura-pura sibuk, Desi tampak serba salah, sementara Eni tampak bingung harus membela yang mana.
Ruri tidak suka suasana seperti ini.
“Sudahlah teman-teman. Kita semua kan bersahabat, jangan ngambek-ngambekan gitu dong.” ujarnya bersuaha mencairkan suasana.
“Iya maaf deh.” ujar Desi “Aku kan cuma pengen ikutan lomba ini aja. Kan lucu loh. Lagipula hadiahnya menarik. Tapi… kalau itu membuat kalian ngambek, ya nggak usah aja deh…”
“Daripada kita ribut-ribut, mendingan begini aja deh…” Eni tiba-tiba nyeletuk. “Yang ikutan foto biar aku, Ruri, dan Desi. Melly kan jagoan design baju, nah biar Melly yang ngerancang baju kita. Nah, Sasa… Papa kamu kan fotografer, kamu bisa minta bantuan papa kamu untuk fotoin kita.…”
Ruri tersenyum, lucu juga ide itu.
Melly mengangguk. “Boleh juga ya…” dia langsung sibuk menggambar sketsa baju untuk Desi, Ruri, dan Eni.
Akhirnya mereka berlima jadi seru membicarakan rencana foto persahabatan itu.
Dua hari kemudian, baju rancangan Melly telah jadi. Dia minta bantuan Mamanya untuk menjahitkan. Mereka kemudian mendatangi studio foto milik Papanya Sasa. Mereka terkejut mendapati Sasa tengah memegang sebuah kamera besar.
“Sasa…”
Sasa hanya nyengir. “Hehe… aku diajarin Papaku juga. Ayo sini, aku yang fotoin.”
Suasana pemotretan berjalan dengan penuh canda tawa. Melly membantu Sasa bertindak sebagai pengarah gaya. Sebentar-sebentar dia memberikan instruksi kepada Ruri, Desi, dan Eni. Sasa asyik dengan kameranya. Gayanya benar-benar mirip fotografer professional!!!
Tak disangka-sangka, ternyata foto mereka dinyatakan sebagai pemenang. Ruri, Desi, dan Eni diundang untuk menerima piala persahabatan. Mereka senang sekali. Berlima, mereka datang ke tempat penyerahan piala.
Ruri didaulat teman-temannya untuk menerima piala.
“Terima kasih semuanya…” ujar Ruri saat piala persahabatan sudah diberikan kepadanya. “Kami berlima adalah sahabat karib. Tadinya kami sempat berselisih karena foto persahabatan hanya boleh tiga orang saja. Kami sudah hampir tidak jadi ikut lomba ini, tapi sahabat-sahabat saya memang adalah sahabat sejati. Walaupun yang muncul di foto itu hanya saya, Desi, dan Eni, namun Melly dan Sasa juga ikut membantu. Melly yang merancang baju yang kita kenakan waktu pemotretan, dan Sasa yang memotret kami …”
Para juri terperangah. Mereka tidak menyangka bahwa foto itu adalah hasil kerjasama anak-anak yang baru duduk di kelas VI SD.
“Persahabatan bukan hanya sekedar di saat suka saja. Bila ada masalah, sahabat sejati akan selalu bersama. Bila ada masalah, sahabat sejati akan memecahkannya bersama. Bila ada masalah, sahabat sejati tidak akan meninggalkan satu sama lain…”
Ruri tersenyum dan mengangkat piala itu tinggi-tinggi. Saat dia kembali ke tempat duduknya, Eni, Desi, Melly, dan Sasa memeluknya dengan erat. Memang persahabatan tidak dapat dihancurkan oleh apapun, tidak juga oleh selembar foto persahabatan.
“Ehmmm…. permisi….” seorang perempuan muda mendekati mereka. “Yang mana yang namanya Melly?”
Melly mengangkat tangannya, “Ada apa, Mbak?’
“Saya melihat hasil rancangan kamu, bagus sekali. Kamu mau ikut lomba perancang muda?”
Melly tersenyum senang, dia mengangguk penuh semangat.
“Maaf, yang mana yang namanya Sasa?” tanya seorang pemuda berkumis lebat.
“Saya…” Sasa mengacungkan tangannya.
“Ini…” pemuda itu menyodorkan sebuah selebaran. Lomba fotografi cilik, tertulis di sana. “Kami memohon partisipasi Anda untuk mengikuti lomba fotografi cilik.”
Sasa mengangguk kuat-kuat. Dia tersenyum lebar sekali.
“Maaf mengganggu… Desi, Eni, dan Ruri.” salah seorang anggota tim juri mendekati mereka.
“Yaaa…” sahut Desi, Eni, dan Ruri berbarengan.
“Kalian mau ya ikutan jadi model cilik. Gaya kalian fotogenik sekali. Kalian pasti bisa jadi model professional…”
Kali ini Ruri, Eni, dan Desi yang bersorak-sorai. Mereka berlima berpelukan sambil tertawa-tawa. Pesahabatan sejati memang dapat mendatangkan hal-hal yang indah!!!
Foto Persahabatan - By Irena - Copyrights 2007