Ada kesalahan di dalam gadget ini

Senin, 03 Oktober 2011

Putus - flashfiction 041011


Kamu dingin. Benar-benar dingin beberapa hari ini. Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi kamu tidak memedulikanku lagi.
Aku melihat motormu di parkiran sekolah, tapi kamu tidak sekali pun datang menemuiku. Tidak saat bel masuk belum berbunyi, tidak saat jam istirahat pertama, tidak saat jam istirahat kedua, tidak juga saat bel pulang sudah berbunyi. Tidak biasanya kamu seperti ini. Selama 6 bulan mengenalmu, kamu selalu menemuiku di waktu-waktu itu.
Aku mencarimu kemana-mana. Di depan kelasmu, di kantin, di perpustakan, di lapangan olahraga, tapi kamu tidak ada di manapun. Seolah kamu hilang ditelan bangunan sekolah kita ini. Teman-teman sekelasmu juga tidak mau memberitahu keberadaanmu.
“Mana Yo?” tanya seorang teman saat melihat aku pulang sendirian. Pasti teman kita itu heran, karena selama 6 bulan ini, kita berdua selalu pulang bersama.
Aku hanya menggeleng pelan. Kupaksakan seulas senyum pahit di wajahku. Semoga itu cukup untuk menjawab pertanyaannya tadi.
Aku melewati parkiran motor dan kulihat motormu masih setia menunggumu di sana. Kamu belum pulang. Kamu berada seharian di sekolah, tapi kamu tidak memedulikanku!
Aku berlari ke pintu gerbang. Berusaha sekuat tenaga menahan air mata yang siap tumpah. Lalu, kulihat kamu berdiri di sudut aula sekolah. Kamu membelakangiku, berdiri menghadap seorang gadis yang kukenali sebagai adik kelas kita. Kalian tidak menyadari kehadiranku, jadi perlahan aku mendekat.
“Aku mau kamu jadi pacarku.”
Kudengar kau berkata seperti itu kepada adik kelas kita yang manis.
“Tapi… Kak Yo kan masih punya pacar…” bisik adik kelas itu ragu.
“Memang,” kau tertawa kecil. “Sekarang masih, tapi sebentar lagi akan kuputuskan dia.”
Aku terkesiap mendengar nada suaramu. Begitu dingin! Begitu acuh!
Putus! Sakit sekali hatiku. Perih sekali hatiku. Tanganku terangkat memegangi dadaku, tempat di mana hatiku berada. Berharap dengan demikian dapat mengurangi rasa sakitnya. Tanganku terasa basah dan hangat. Kutatap jemariku. Merah. Amis. Mataku beralih ke dadaku.
Ada belati tertancap di sana…

Tidak ada komentar: